Ngawi

Sukses Adi Baskoro Menjadi Pengusaha Sablon dan Konveksi di Ngawi

Modal Awal Dibelikan Dua Alat Cetak Sablon

Kreativitas Adi Baskoro dalam menekuni usaha sablon dan konveksi berbuah manis. Hasil produksinya banyak dikenal orang. Bahkan, sampai luar negeri. Padahal, usaha itu dirintisnya dengan modal pas-pasan.

__________________________________

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

LANTAI dua tempat tinggal Adi Baskoro di Jalan Raden Saleh nomor 22, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi, nyaris seperti pabrik konveksi. Banyak potongan kain berserakan di rumah tersebut.

Di loteng itulah aktivitas produksi kaus setiap hari dilakukan Adi. Mulai dari mendesain, memotong kain, hingga menyablon. ‘’Untuk penjahitan kami bekerja sama dengan pihak kedua,’’ kata Adi kemarin (22/1).

Ada berbagai jenis konveksi yang diproduksi lelaki 29 tahun itu. Antara lain, kaus, jaket, dan kemeja. Untuk menjaga kualitas, proses pembuatan dilakukannya dengan teliti. Termasuk saat pemberian warna pada kain. ‘’Paling banyak pesanan kaus mulai dari perorangan sampai komunitas,’’ ujarnya.

Adi mengaku bisnis sablon dan konveksi itu merupakan klimaks dari sejumlah kegagalan usaha yang pernah dijalaninya. Termasuk membuka usaha sablon pada 2014 bersama temannya. ‘’Tapi, usaha itu gagal,’’ tuturnya.

Namun, Adi tak pantang menyerah. Usaha itu kembali dirintis setahun kemudian. Hanya, pekerjaan tersebut dilakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya. ‘’Baru pada 2016 setelah meminta izin secara terang-terangan, direstui dan diberi bantuan modal,’’ paparnya.

Modal awalnya saat itu sebesar Rp 3 juta. Kemudian dia pakai untuk membeli dua alat cetak atau sablon. ‘’Awalnya masih menggunakan teknik sablon cuting dengan jenis sablon rubber,’’ jelasnya.

Pelan tapi pasti, kualitas cetak sablonnya ditingkatkan menjadi plastisol. Hasilnya, jumlah pesanan yang sebelumnya hanya puluhan potong, kini dalam sebulan mencapai 300–500 potong. ‘’Beberapa kali mendapat pesanan dari luar negeri. Seperti dari Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Jepang. Terakhir 24 potong kaus bagi  tentara perdamaian Republik Demokratik Kongo,’’ ungkapnya.

Berbagai komunitas diajak Adi untuk bekerja sama memasarkan produknya. Termasuk mensponsori sejumlah event di daerah. Selain itu, dia mencoba mengangkat Ngawi melalui beragam desain kaus karyanya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close