Suka Duka Eka Andi Nurdianto dkk Jadi Relawan Dadakan

211

Sejak beberapa hari terakhir Eka Andi Nurdianto dkk menjadi relawan dadakan. Bersenjatakan pelampung dari ban dalam truk, mereka menerobos kepungan banjir ke tengah permukiman untuk menolong warga.

———————-

SEJUMLAH pemuda bergerombol di mulut sebuah gang Desa Mangunharjo, Ngawi. Kaus yang mereka kenakan tampak basah kuyup. Beberapa di antaranya malah bertelanjang dada. Tak jauh dari tempat mereka duduk-duduk, terlihat beberapa pelampung dari ban dalam. ‘’Ban truk ini,’’ kata Eka Andi Nurdianto.

Andi bergerombol dengan belasan pemuda sepantaran. Meski sesekali terdengar joke-joke disambut dengan tawa, garis kelelahan tergurat di raut wajah masing-masing. ‘’Sejak tadi pagi menolong orang-orang yang terjebak banjir,’’ ungkapnya.

Tidak lama berselang sebuah mobil datang. Roda mobil tak kelihatan, tertutup air berwarna cokelat. Setelah berhenti, penumpang dan pengemudinya memanggil Andi dkk. Sejurus kemudian, mereka kembali dengan menjinjing kardus-kardus berisi makanan dan minuman.

Andi dan teman-temannya lantas meraih ban dalam. Beberapa makanan-minuman ditinggal di mulut gang. Perlahan, mereka melangkahkan kaki ke genangan air. Semakin masuk, semakin tinggi pula kaki mereka terendam. ‘’Tadi pagi belum setinggi ini. Tambah deras airnya,’’ ujar pemuda 19 tahun asal Dusun Pendem, Mangunharjo, itu.

Sekitar satu jam kemudian, Andi dan beberapa temannya kembali. Salah seorang di antaranya mengambil kardus. Masing-masing sebungkus, nasi dibagikan, lalu dimakan dengan lahap. ‘’Lapar,’’ kata Andi yang lantas disambut gelak tawa dari yang lain.

Sejak air mulai masuk permukiman, Andi dan teman-temannya menolong warga yang terjebak di dalam rumah. Anak-anak dan perempuan mereka tolong lebih dulu. Sebuah meja dibalik dan diikat di atas ban dalam. Dengan perahu ala Andi dkk tersebut warga dievakuasi.

Berjalan dengan ketinggian air sampai sedada mereka jalani. Tak jarang pula mesti menyelam saat melintas di tempat yang kelewat rendah. ‘’Yang pria bisa menyelamatkan diri sendiri. Kalau perempuan dan anak-anak kan takut, arusnya kencang di sana,’’ ungkapnya.

Berbagai pemandangan orang-orang di tengah banjir tertangkap mata mereka. Mulai nenek-nenek yang menangis ketakutan sampai bocah-bocah berwajah riang saat sampai di air yang dangkal. Embik kambing dan lenguh sapi juga sesekali menusuk indra pendengaran mereka. ‘’Kalau sungai meluap, sini memang biasa kena banjir. Tapi, sebelum-sebelumnya tidak sampai separah ini,’’ terang Andi.

Andi dan teman-temannya bukan tidak terdampak banjir. Rumah mereka juga terendam. Sebelum berjibaku dengan ban dalam truk bersama, Andi dkk lebih dulu menyelamatkan keluarga, barang-barang berharga, dan hewan ternak.

Bersama sang ayah, Andi sendiri nyaris terbawa arus saat berupaya menyelamatkan dua ekor sapi yang kandangnya sudah tenggelam. ‘’Setelah itu, kami bersama-sama menolong warga lain. Kebetulan kakak saya sopir, jadi ada ban dalam di rumah,’’ tuturnya. ***(deni kurniaswan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here