Madiun

Suhu Panas Naik Turun

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca dalam beberapa hari ini tak menentu. Kadang panas dan terik sekali dalam sehari. Pun, pagi sampai siang panas, namun sore dan malamnya berangin. Suhu panas tersebut membuat beberapa warga merasa gerah. Misalnya, beberapa petani di sejumlah wilayah harus pulang sebelum waktunya karena cuaca yang panas.

Mereka mengaku kegerahan saat berada di sawah. Membuat meraka beristirahat lebih dulu. Hal sama juga dirasakan warga di perkotaan. Beberapa warga memilih untuk berada di ruangan ber-AC atau berdiam di rumah.

Informasi yang dihimpun, hasil pengukuran suhu udara naik turun. Senin (21/10), mencapai 40 derajat Celsius. Selasa (22/10) sekitar 39 derajat Celsius. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setiap harinya cuaca terus berubah.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Supriyanto menyatakan, perubahan suhu panas udara itu merupakan bagian dari fenomena pancaroba. Diperkirakan peralihan musim dari panas ke hujan akan terjadi mulai awal November. ‘’Musim hujan datang lebih cepat, lebih baik. Supaya sektor pertanian bisa kembali normal,’’ katanya.

Untuk menghadapi dampak buruk pancaroba, Supriyanto mengaku sudah mempersiapkan sarana prasarananya. Seperti perahu berikut bantuan sosial (bansos) bagi korban terdampak bencana banjir maupun angin kencang. ‘’Semua sudah kami persiapkan sejak jauh-jauh hari,’’ ungkapnya. (mgc/c1/her)

Waspadai Angin Kencang

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperkirakan suhu tinggi di sebagian daerah di Jatim akan terjadi hingga akhir Oktober. Masyarakat diminta menyesuaikan diri dan bersiap jika terjadi angin kencang. Tanpa kecuali bagi warga Kabupaten Madiun.

Plt Kepala Stasiun Meteorologi (BMKG) Kelas I Juanda Rofiq Isa Mansur  menjabarkan, naiknya suhu terjadi merata di Jatim. Hal tersebut merupakan kejadian alam yang wajar di setiap bulan Oktober. ‘’Memang data iklim kami menunjukkan suhu maksimum tertinggi terjadi di bulan Oktober. Kebetulan juga posisi matahari saat ini tepat di atas Pulau Jawa,’’ kata Rofiq seperti rilis yang diterima Jawa Pos Radar Madiun Selasa (22/10).

Suhu tinggi juga dipengaruhi datangnya musim pancaroba. Atau peralihan dari musim kemarau ke penghujan. Di mana daerah yang vegetasinya kurang cenderung lebih hangat. Begitu juga sebaliknya.

Menghadapi suhu tinggi itu, BMKG meminta masyarakat waspada dengan kemungkinan datangnya angin kencang. Saat ini kecepatan angin berada di atas rata-rata. Yakni, sekitar 50 kilometer per jam hingga 60 kilometer per jam.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Supriyanto mengatakan, peningkatan suhu udara tak berdampak langsung pada krisis air bersih yang dialami oleh beberapa warga maupun pertani di sejumlah wilayah. Sebaliknya, persoalan itu dipicu karena konsumsi berlebih sumber air oleh masyarakat. ‘’Banyak petani yang memasang sumur sibel. Hal itu berpengaruh pada menyusutnya sumber air,’’ terangnya. (mgc/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close