Subadhar Biasa Main Kanibal saat Perbaiki Kamera Jadul

37

NGAWI – Jalan rezeki Subadhar terbuka lebar lantaran kedekatannya dengan kamera. Pria itu menjadi jujugan pehobi fotografi yang kameranya bermasalah. Berkat itu pula rupiah mengalir ke kantongnya.

Malam itu Subadhar tampak sibuk di sebuah ruangan dengan nyala lampu neon benderang. Di hadapannya berserakan peranti fotografi yang telah dipreteli. Sesekali dia terdiam mengamati apa yang ada di depannya sembari membetulkan kuciran rambutnya yang gondrong.

Bagi pria yang akrab disapa Badhar itu, kamera seolah sudah menjadi istri keduanya. Belasan tahun sudah warga Dusun Jambe Kidul, Desa Ngale, Paron, tersebut menjadi penyervis kamera. Sejak zaman kamera masih analog sampai DLSR seperti era sekarang. ‘’Hobi fotografi sejak SMK. Waktu itu masih pakai film,’’ ujarnya.

Selama itu pula hari-hari Badhar tak lepas dari urusan jepret-menjepret. Saat masih bersekolah di SMKN 1 Madiun, pria 46 tahun ini sudah dikenal cakap dalam memotret maupun membongkar-pasang benda untuk mengabadikan momen dalam sebuah gambar tersebut. ‘’Sempat bekerja ke Jakarta juga dulu, di pabrik tekstil, tapi ikut desainernya. Foto-foto produk batik baru,’’ ungkapnya.

Kiranya Badhar kadung ogah berpaling dari kamera. Pada 1993, dia mantap hati membuka jasa pemotretan. Acara pernikahan menjadi sasarannya kala itu. Tak sedikit jenis kamera yang didimilikinya beserta pernik pelengkap fotografi yang lain.

‘’Mulai berani utak-atik kamera, karena dulu susah sekali cari tukang servis kamera,’’ ungkapnya.  ‘’Kamera sendiri yang jadi kelinci percobaan. Punya saya yang analog jadi pajangan di rumah sekarang,’’ imbuhnya.

Bongkar pasang kamera dilakukannya berkali-kali. Lambat laun, jari-jari Badhar terasah dengan sendirinya. Percobaan demi percobaan dia lakukan. Ada kamera yang kembali normal, ada pula yang tidak dapat teratasi. ‘’Pakai insting saja dan bertanya ke beberapa teman. Dulu belum ada tutorial-tutorial di YouTube seperti sekarang,’’ kenangnya.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ungkapan tersebut kiranya tepat untuk menggambarkan kepiawaian badhar menyervis kamera. Dari yang semula memperbaiki milik sendiri, dia sekarang menjadi jujugan pehobi fotografi dari berbagai daerah.

Tak jarang dia mendapat permintaan menyervis kamera dari Madiun, Magetan, Nganjuk, dan Ngawi. ‘’Awalnya dari teman-teman fotografer yang kameranya rusak dan minta diperbaiki,’’ ungkap ayah satu anak ini.

Sebuah kamera memiliki berbagai komponen berukuran kecil. Namun, itu bukan menjadi masalah bagi Badhar. Biasanya dia berkerut dahi saat datang pelanggan dengan kamera keluaran lawas. Ketersediaan suku cadang cukup membuatnya pusing. Pun, Badhar sering kena semprot pelanggan saat menolak menyervis karena suku cadangnya sudah tidak ada di pasaran. ‘’Bisanya main kanibal (ambil spare part lain, Red),’’ ujarnya.

Kini rumah Badhar sudah seperti museum mini kamera. Selain kamera jadul untuk pajangan, asbak di meja ruang tamu pun terbuat dari lensa kamera yang sudah tidak bisa diperbaiki. ‘’Kalau biaya servis tergantung kerusakannya. Dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah,’’ ungkap Badhar. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here