Suara Hati Pedagang Pasar eks Stasiun yang Berat Hati Direlokasi

129

Andai pasar sementara sepadan dengan pasar eks stasiun, tak ada yang keberatan untuk ditertibkan. Pergeseran kelas tempat berjualan itulah yang membuat sebagian pedagang masih berat hati direlokasi. Kebijakan itu disesalkan lantaran pasar sementara tidak sestrategis pasar eks stasiun yang telah puluhan tahun dihuni ini.

—————-

MATAHARI hampir berada di tengah. Udara saat itu sedang panas-panasnya. Tapi, aktivitas pedagang di pasar eks stasiun tidak terhenti. Pedagang tetap melayani pembeli. Di bangunan baru di belakang lapak pinggir jalan terlihat pula beberapa pedagang.

Tepat di pintu masuk, Cindy Ruslya terlihat sibuk menjajakan aneka bumbu dapur. Melewati lapak yang digunakan Cindy, terhampar lapak-lapak yang sebagian telah ditinggalkan penghuninya. Di pasar itu, Cindy lebih dikenal sebagai penjual daging ayam. Hanya, menginjak pukul 09.00, daging ayam jualannya telah ludes. Menyisakan bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabe merah, hingga rempah-rempah. ‘’Tempat ini sudah saya sewa dan sudah bayar. Belum habis juga. Kenapa disuruh pindah,’’ kata Cindy.

Lima bulan terakhir, kesibukan sebagai pedagang dilakoni Cindy. Tiap hari dia harus bangun saat kebanyakan orang terlelap. Gadis berkerudung hitam itu berangkat dari rumah pukul 03.00. Setibanya di pasar eks stasiun, dia langsung menyiapkan dagangannya. Barang dagangan yang telah diambil dari tengkulak malam harinya ditatanya dengan rapi. Meski terbilang masih remaja, dia tak canggung harus belepotan. Barangkali, dialah satu-satunya pedagang termuda di pasar eks stasiun. ‘’Setahun setelah lulus SMA, saya dibuatkan usaha oleh ibu saya yang sudah lama berdagang di sini,’’ ujarnya.

Setelah lulus SMA, sebenarnya dia mencoba mengikuti seleksi kepolisian. Namun, takdir berkata lain. Dia kurang beruntung dalam salah satu tes yang hampir mengantarkannya mewujudkan cita-citanya sejak kecil itu. Dia lantas memilih berdagang dan membantu Sutini, ibunya yang telah berjualan puluhan tahun silam. Dengan menyewa kios di bangunan baru pasar itu. Sewanya mencapai Rp 65 juta. Agak terpisah dengan lapak si ibu yang berada di dalam pasar, Cindy berjualan daging ayam dan berbagai bumbu dapur. Selang beberapa waktu, langganan kian banyak. Nyaris daging ayam ludes kurang dari lima. ‘’Tapi gak banyak sih daging ayam jualan saya. Biasanya saya buka setengah lima pagi, tutup jam sepuluh,’’ ungkap gadis kelahiran 1999 itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here