Suami di Malaysia, Sri Winarsih Sibukkan Diri dengan Tanaman Hidroponik

273

Keterbatasan lahan tidak menyurutkan niat Sri Winarsih untuk bercocok tanam. Sistem hidroponik dipraktikkannya. Melanjutkan langkah yang telah dirintis sang suami, dia kini mengurus sayur-mayur di halaman depan-belakang rumahnya seorang diri.

————–

NUANSA hijau seketika tertangkap mata saat bertamu ke rumah Sri Winarsih di Dusun Sukorejo, Desa Banyubiru, Widodaren. Pelataran rumah perempuan tersebut sarat sawi siap petik. Namun, hamparan tanaman berdaun lebar itu tidak menancap di tanah. Melainkan mengapung di air kolam. ‘’Diberi styrofoam dan semacam gelas plastik untuk setiap batangnya,’’ kata Sri.

Beranjak dari dua petak kolam hidroponik dengan tutupan atap plastik itu, pemandangan serupa terpampang di halaman belakang. Sedikit agak luas, tidak hanya sawi tanaman yang dibudi daya dengan teknik hidroponik. Ada selada dan kangkung. Juga melon yang mulai berbunga di sudut lahan. ‘’Mulainya tiga tahun lalu,’’ ungkapnya.

Perempuan 30 tahun itu sengaja berhidroponik lantaran tidak memiliki cukup lahan untuk bercocok tanam. Alasan tidak ingin repot-repot pergi ke pasar untuk sekadar memasak sayur juga menjadi faktor pendorong.

Namun, buah manis lain dirasakannya saat ini. Tak hanya tetangga sekitar, banyak ibu-ibu teman anaknya di TK yang kepincut dengan sayur hidroponik yang dibudidayakan Sri. ‘’Sawi, selada, dan kangkung yang sering dibeli,’’ sebutnya.

Sri menjual tanaman hidroponiknya kiloan. Satu kilo sawi hidroponik dipatok harga Rp 15 ribu. Sedangkan selada Rp 20 ribu. Sementara, kangkung dibanderol Rp 8 ribu sekilo. Sayuran itu sengaja dikemas dengan plastik bening bak produk supermarket. ‘’Kadang nganter, ada juga yang datang ke sini langsung karena ingin memetik sendiri,’’ ungkapnya.

Cara Sri berpromosi terbilang simpel. Ketika menjelang panen, dia memamerkan tanaman hidroponiknya melalui media sosial (medsos). Tak sedikit yang kepincut dengan foto-foto yang diunggahnya di beberapa akun medsos maupun story WhatsApp (WA)-nya. Bahkan, ada yang rela inden sebelum dipanen.

Sri mengurus segala sesuatu tentang tanaman hidroponik seorang diri. Mulai memasukkan bibit, merawat, sampai memanen. Pun, mengontrol kadar pH air juga menjadi kesibukannya saban hari. ‘’Kalau medianya, dulu dibuatkan suami saat pulang dari Malaysia,’’ terang istri Aris Fatony ini.

Sejumlah kendala sempat dialami perempuan yang sedang hamil anak kedua itu sebelum bisa sampai seperti sekarang ini. ‘’Awalnya ini idenya suami. Tapi lama-lama tidak terurus karena ditinggal kerja ke Malaysia,’’ tuturnya.

Melihat kolam dan paralon-paralon menganggur, Sri merasa eman. Dia lantas membenahi media hidroponik yang mangkrak di rumahnya itu. Lantaran tidak begitu mengerti, dia nekat menghubungi suaminya lewat video call, minta diajari bercocok tanam metode hidroponik. ‘’Dulu pernah habis dimakan ayam. Lalu ditambahi plastik UV seperti ini biar aman,’’ jelasnya. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here