Stunting, Ribuan Balita du Pacitan Tumbuh ”Kerdil”

132

PACITAN – Masalah gizi belum bisa dituntaskan Pemkab Pacitan. Terbukti jumlah anak ”kerdil” (fisik pendek) masih banyak. Bahkan, 1.636 bayi di bawah lima tahun (balita) sangat pendek. Sementara 2.662 lainnya pendek. Angka tersebut tercatat dari total 18.088 balita yang berkunjung ke puskesmas. ‘’Jadi, kita kembalikan ke definisi stunting, jika (dialami) anak berusia dua tahun ke bawah. Kita asumsikan sepertiga dari jumlah tersebut. Itu yang akan kami intervensi,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Eko Budiono kemarin (5/3).

Secara umum, imbuh Eko, penderita stunting di Kabupaten Pacitan berkisar 24 persen. Jumlah tersebut relatif aman. Dalihnya, sesuai pedoman pemerintah pusat yang merujuk ketentuan World Health Organization (WHO) di bawah 30 persen termasuk kategori ringan. ‘’Kami harapkan dengan program di atas, dua tahun sudah tidak stunting lagi,’’ ujarnya di sela acara Rembug Stunting di Gedung Karya.

Sementara Ketua Tim Pangan dan Gizi Provinsi Jatim dr Andrianto yang hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan pengentasan stunting tak bisa dilakukan setengah-setengah. Hal tersebut berkorelasi dengan tingkat kemiskinan suatu daerah. Lantaran stunting membuat tingkat perkembangan otak anak terganggu, hingga berujung pada penerimaan pendidikan dan status pekerjaan kelak. ‘’Walaupun penelitian kami di Jawa Timur kemiskinan itu hanya 35 persen jadi penyebab (stunting). Justru 55 persen karena pola asuh. Karena ketidakmampuan keluarga tersebut memberikan makanan terbaik,’’ tutur Andrianto.

Dia menambahkan, meski peran pemerintah daerah amat erat sebagai pengentas stunting, namun kepekaan keluarga jadi faktor utama keberhasilan tersebut. Pun ibu hamil yang mengonsumsi makanan bergizi, mengingat proses pertumbuhan janin amat cepat. Di samping pendampingan dari dinkes setempat dalam mengubah pola hidup masyarakat agar derajat kesehatan meningkat. ‘’Dalam dua pendekatan ini yaitu pola sensitif (keluarga, Red) dan spesifik pendampingan dari dinas bersangkutan,’’ ungkapnya.

Tak ingin berlarut-larut, Bupati Pacitan Indartato bakal mengkaji kemungkinan pemanfaatan dana desa (DD) untuk membantu mengatasi kelainan yang kerap menimpa anak-anak kurang gizi tersebut. Pasalnya, dia menilai gizi yang baik berawal dari kehidupan ekonomi masyarakatnya. ‘’Harus sungguh-sungguh, tak sekadar program atau acara seremonial,’’ pungkasnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here