Jelang Coblosan, Polisi-Bawaslu Pantau Ketat Medsos

32

MADIUN – Berhati-hatilah saat membuat status di media sosial (medsos). Jangan sampai mengandung ujaran kebencian atau hate speech. Polisi siap menindak jika memang melanggar hukum. ’’Kasus ujaran kebencian di Kota Madiun alhamdulillah tidak ada, semua terjaga dan kondusif,’’ ujar Kasat Reskrim Polres Madiun Kota AKP Suharyono.

Menurutnya, sangat berbahaya jika ada yang berani menyebarkan hate speech. Sebab, itu akan berpotensi menyakiti harga diri individu maupun kelompok tertentu. Apalagi di situasi politik seperti saat ini. Begitu rentan terprovokasi. ’’Tolong masyarakat bisa memilah dalam menyerap informasi, mana yang benar, mana yang hoaks,’’ ujarnya.

Dia meminta pula agar warga tidak asal menyebarluaskan informasi tanpa dilakukan cek dan ricek kebenarannya. Saat ini, berseliweran berbagai berita di medsos. Selain ujaran kebencian, kata dia, penyebar berita hoaks juga terancam tindak hukum pidana. Untuk ujaran kebencian diatur dalam pasal 156 KUHP. ’’Ancaman hukuman 3 sampai 7 tahun penjara,’’ tegasnya.

Selain pihak kepolisin, bawaslu juga intens memantau medsos. Semua penyakit dalam berdemokrasi diawasi ketat. Seperti isu SARA, kampanye hitam, berita bohong (hoaks), dan politik uang. Masih berkaitan dengan penyakit demokrasi, masalah ujaran kebencian juga menjadi  sorotan bawaslu. ’’Untuk Kota Madiun kami belum menemukannya (ujaran kebencian) tapi itu juga membahayakan,’’ kata Ketua Bawaslu Kota Madiun Kokok Heru Purwoko.

Kokok HP mengatakan, ujaran kebencian sudah banyak kasus di tingkat nasional. Karena itu, perlu menjadi perhatian bagi masyarakat agar lebih hari-hati dan bijak dalam bertutur kata. Terutama saat berkomentar di medsos. Pun, jika bawaslu menemukan aduan ujaran kebencian pihaknya akan menelaah terlebih dahulu. ‘’Ditelaah dulu masuknya pidana pemilu atau pidana umum, kalau umum kami sudah koordinasi dengan polresta untuk ditindaklanjuti,’’ terangnya.

Lanjutnya, ujaran kebencian berpotensi menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal. Dalam pemilu, masalah ujaran kebencian lekat hubungannya dengan kampanye hitam dan berita bohong. Jika dibiarkan, kata dia, situasi ini memperkeruh suasana dan memicu terjadi gejolak sosial di masyarakat. ’’Juga memainkan isu SARA dan agama, ini berbahaya,’’ bebernya.

Dia berharap masyarakat lebih bijak dan waspada ketika menerima informasi pemberitaan. Terlebih dari medsos. Cara yang dilakukan dengan tidak menelan mentah dalam melakukan kroscek untuk mencari kebenarannya. ’’Jangan mudah disebarkan, disiarkan jika belum tahu kebenarannya. Harus dicari tahu. ’’Jangan terpengaruh dengan hal-hal negatif,’’ tegasnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here