Startnya Bersama, Tanjakanlah yang Memisahkan Kita

88
AKU FINIS: Kesehatan itu penting. Dan, sadar akan kesehatan itulah yang menyatukan para cyclist ini. Tapi, kalau sudah di tanjakan, jangan tanyakan lagi persatuan.

Dua hari ini, saya bertanjakan ria. Dan, selama dua hari pula, saya ditemani sepeda hybrid United Slick. Tidak ada persoalan berarti saat mendaki jurang Ndengkeng dan Gondosuli. Kemarin pagi, giliran berslalom di hutan Desa Randualas, Kecamatan Kare, bersama sembilan cyclist Madiun.

—————

ASOY geboy. Dua kata itu yang bisa mewakili perasaan saya saat sukses menaiki tanjakan Randu Alas. Meski kewer kewer, saya puas. Sebab, bisa merasakan tanjakan aduhai itu dari atas sadel sepeda hybrid. Sensasional bener. Meski tanjakannya panjang, hybrid teryata bisa ngibrit.

Tepat pukul 06.00 kemarin, saya bersama cyclist Madiun menjadikan Masjid Mujahidin, Jalan Setiabudi, sebagai titik kumpul. Hampir 15 menit lamanya, satu per satu cyclist dari berbagai komunitas di Madiun mulai berdatangan. Tapi, saya harus acungi jempol kepada cyclist Tan Swie Lay. Sebagai cyclist tersepuh, dia memberi contoh yang baik. Yakni, datang paling cepat. “Pukul 05.45 saya sudah parkir di depan masjid. Saya pikir pukul 06.00 langsung berangkat. Eeee… ternyata ngaret 15 menit. Tapi, gak papa. Sebab, tidak sampai ngaret sejam. Bisa balik kanan saya,” kata Koh Lay yang bersepeda sejak 1997.

TUA-MUDA: Duo cyclist bersalam komando seusai menundukkan ’’tanjakan bergizi’’ Randualas, Kecamatan Kare, Madiun.

Setelah gojek sesaat, Suwadi Haliman alias Dalbo didapuk sebagai road captain. Podium ke-2 kategori usia 40 ke atas saat Karismatik Cycling Community 2019 ini selalu menjadi langganan tukang geret (tarik). Baik itu di klubnya IPSM (Ikatan Pembalap Sepeda Madiun) maupun saat touring gowes ke berbagai kota. Mengapa Dalbo selalu menjadi langganan tukang tarik? “Dia itu sudah paham kalau gowesnya berpoloton. Selain kuat, tarikannya punel,” kata Iwan Yoshinata, cyclist IPSM.

Apa yang diutarakan Iwan Yoshi soal kepiawaian Dalbo tidaklah berlebihan. Sejak start hingga masuk kawasan Wonoasri, peloton masih utuh. Belum ada satu pun yang tercecer. Bahkan beberapa di antara cyclist masih bisa mengingatkan kalau pas di depannya ada lubang. Maklum, jalan masih datar. Ibarat orang sombong, belum ketemu batunya. Cuma butuh waktu 30 menit untuk sampai Kota Caruban dari titik start di kawasan Jalan Setiabudi, Kota Madiun.

Memasuki Desa Klecorejo, Caruban, jalannya supermulus. Tarikan mulai ditambah. Tepat sejam lamanya, rombongan mulai memasuki kawasan hutan Randu Alas. Di dua kilometer awal masuk kawasan hutan, peloton masih kempel. Bahkan, hingga di enam kilometer kawasan hutan tersebut, peloton masih terjaga kesetiaannya. Bak orang jatuh cinta, nempel terus ke mana-mana.

Tapi, memasuki kilometer tujuh menjelang titik finis, masing-masing cyclist mulai terlihat kekuatan sebenarnya. Yang fisiknya benar-benar siap, terlihat cakep kayuhannya. Selain Dalbo, para cyclist gaek –seperti Harsono, Koh Lay, Hari Nanung, dan Budi Remul (Rejo Mulyo)– tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali. Bahkan, Hari Nanung mulai menunjukkan taringnya. Dia langsung nge-break meninggalkan peloton.

Inilah momen nuntun atau tidak nuntun. Di tiga kilometer terakhir, tanjakan menyakitkan mulai tersaji di depan mata. Di sinilah, ’’semangat kebersamaan’’ benar-benar tidak berlaku. Padahal, sejak SD, SMP, dan SMA, para guru terus mengingatkan saya agar semangat kebersamaan itu dipupuk dalam segala suasana. Tapi, dalam ’’keluarga bersepeda’’, rasanya semangat itu luntur. Atau, bahkan hilang plas. Start memang boleh bersama. Tapi, tanjakanlah yang memisahkan kita. Akhirnya, tinggal-tinggalan tak terelakkan lagi. Maklum, cyclist sibuk ngopeni tanjakan sesuai kemampuannya masing-masing. “Silakan njeber jarik (menyiapkan gear, Red) sesuai kekuatan masing-masing,” gurau Sugiyono, cyclist Radar Madiun Cycling Club (RMCC).

Sudah bisa ditebak. Sayalah yang akhirnya terkewer-kewer. Dengan sisa tenaga yang ada, saya berusaha mempertahankan putaran. “Habiskan, Pak Aris. Habiskan saja,” teriak Suyadi, cyclist asal Puri Cycling Club (PCC), Jakarta, yang ternyata mengawal saya dari belakang.

Kata habiskan, yang dimaksud Suyadi, intinya menginstruksikan saya agar menghabiskan sprocket yang tersisa. Sebab, kalau masih menggunakan kombinasi crank-sprocket yang tidak tepat, laju kayuhan pedal saya akan tersendat. Kalau hal ini sampai terjadi, alamat akan digondol macan alias hilang dari rombongan peloton. “Jangan menyepelekan kombinasi crank-sprocket kalau track yang akan kita lalui ada variasi tanjakannya,” kata Suyadi, cyclist yang ternyata asli Dusun Blerong, Desa Joho, Dagangan.

Apa yang diteriakkan Suyadi, saya ugemi (lakukan). Meski pelan, saya mampu melewati ’’tanjakan bergizi’’  Randualas. Butuh waktu hampir 10 menit untuk menaiki tanjakan bergradien 15 persen tersebut. “Memang tidak tinggi gradiennya. Tapi cukup panjang. Hampir 500 meter,” kata Hari Nanung sambil senyam-senyum melihat wajah saya abang-ireng.

Meski terseok-seok dan berada di posisi buncit, saya akhirnya bisa lolos dari ’’tanjakan bergizi’’ Randualas. Tapi saya puas. Kalau sebelumnya ke Nongko Ijo jaraknya 52 kilometer pergi pulang, kemarin mencapai 72 kilometer via Randualas. Lumayan tambah kilometer dan tambah tinggi elevasinya. Tapi, yang paling bergizi itu, saya dan teman-teman cyclist bisa mengobati kelelahan dengan menyantap makanan langganan kami, di warung Mbak Reni. (aris sudanang/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here