Staf Pendidikan Luar Biasa Getol Tularkan Semangat Membaca

98

Menularkan semangat membaca hari ini sesulit membangun istana pasir. Kecanggihan teknologi seolah merebut minat baca anak-anak yang semakin hari semakin menurun. Tapi, semangat Joko Setyono tidak luntur. Pria itu mendirikan taman baca di sekitar jembatan gantung.

——————-

SEJUK udara langsung terasa begitu melintasi pagar bambu di rumah dekat jembatan gantung di Desa Bareng, Babadan, Ponorogo. Batu kali bertaburan di halaman menuju pintu rumah berarsitektur Jawa kuno itu. Di sebelah kanan terdapat fasilitas bermain untuk anak-anak. Mulai jungkat-jungkit, ayunan, hingga permainan lainnya. Di dekatnya terdapat patung kuda yang cukup menarik perhatian. Memasuki teras rumah terdapat sebuah meja berukuran besar. Bekas lincak berbahan jati itu bisa digunakan untuk menyimpan barang. Orang dulu biasanya menggunakannya untuk menyimpan gabah. Di sampingnya terdapat lemari lawas. Di dalamnya berbagai jenis buku berjajar rapi. Sementara di sekeliling teras terdapat sepeda kuno yang sengaja dipasang untuk pagar. Memasuki ruang utama, terdapat berbagai alat musik. Di situlah Joko AE biasa menghabiskan waktunya bermain musik. ‘’Dengan semua fasilitas ini semoga minat baca anak-anak sekitar meningkat,’’ kata Joko AE yang tinggal di Perum Pepabri, Kelurahan Keniten, Ponorogo, itu.

Jelang pensiun, Joko AE semakin dekat dengan anak-anak. Cita-citanya mulia. Ingin mengenalkan buku sebanyak-banyaknya kepada pembaca usia dini agar tumbuh menjadi generasi melek baca. Ini berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). ‘’Meski tak mudah mewujudkannya,’’ ujarnya.

Awalnya, Joko mendirikan taman baca di rumahnya. Koleksinya buku bekas yang telah dikumpulkannya. Berjalan beberapa tahun, dia memindahkan lokasinya ke dekat jembatan gantung. Selain tempatnya nyaman, dia berharap warga di dekat pinggiran desa itu dapat membaca berbagai buku koleksinya. Taman baca itu lantas diberi nama Kaleh Welas. Itu diartikannya sebagai perjuangannya memperoleh buku bekas selama ini. Ketika itu taman baca yang dia dirikan berkembang pesat. ‘’Tidak hanya anak-anak yang dapat menikmati, remaja dan berbagai umur juga berusaha saya rangkul,’’ tutur pria kelahiran 1962 itu.

Dia ingin taman baca tersebut dapat dinikmati berbagai kalangan. Karenanya, dia pun menyediakan tempat ngopi. Tetapi, semakin lama, peminatnya berkurang. Apalagi orang yang menjaga taman baca itu terpaksa berhenti. Tersebab alasan ekonomi keluarga. Dari situlah dia mulai melakukan beberapa cara. Salah satunya menghadirkan dunia musik di taman baca tersebut. Apalagi dia kini sudah memasuki masa jelang pensiun. Sehingga dapat memfokuskan aktivitas literasi itu. ‘’Sudah mengajukan pensiun,’’ kata mantan kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Badegan dan Sampung 2009-2018 yang saat ini menjabat staf Pendidikan Luar Biasa Dindik Ponorogo itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here