Madiun

Sony Hendarto Berani Terbuka Urusan Keuangan dengan Karyawan

Sony Hendarto cukup dikenal sebagai pebisnis sukses di Kota Karismatik ini. Kegagalan dijadikan pelecut untuk menapaki tangga bisnis lebih baik lagi. Pengalaman dan keuletan mengantarkannya sukses di bidang usaha game, resto hingga dealer.

———————

SONY Hendarto bercakap santai dengan rekan binisnya di kafe Jalan Bali itu. Tak lama berselang, dia beranjak dari sofa. Berjalan menuju areal kolam renang untuk sesi pemotretan dengan Jawa Pos Radar Madiun. Sekembalinya ke kafe, dia dikejutkan sekelompok orang yang meminta berfoto bersama dengannya. Sony yang murah senyum pun kian semringah. ‘’Itu tadi teman baik,’’ kata Sony.

Pria kelahiran Solo 52 tahun silam ini dikenal sebagai salah satu figur pengusaha sukses di Kota Karismatik. Jenis usahanya kini cukup beragam. Mulai dari game fantasia di pusat perbelanjaan, restoran sampai dengan dealer motor pabrikan Jepang. ‘’Dealer, baru berjalan satu tahun lebih,’’ ujarnya.

Sebelum terjun sebagai business man, dua tahun Sony sempat menjadi manager Fire Club. Dari sana, banyak pengalaman berharga yang dipetik. Di antaranya mengasah kemampuan me-managemen orang dengan baik. Mulai dari pertemuan dengan aparat penegak hukum, pebisnis dan lainnya. ‘’Terlepas dari stigma masyarakat, di sana saya banyak belajar. Bagaimana menangani banyak latar belakang dan karakter orang yang berbeda. Bagi saya segala sesuatunya ada positif dan negatif,’’ urainya.

Singkat cerita, dalam sebuah perayaan imlek, Sony terlibat obrolan dengan kerabat dekatnya. Saudaranya itu sedang menjalankan bisnis bidang industri game untuk zona permainan anak di mall. Harga per unitnya Rp 1,5 juta. Namun, keuntungan yang didapat berlipat. Mendengar itu, insting binsis Sony bergerak. Dia memulai bisnisnya di usia 25. ‘’Dengan harga segitu, untungnya doule. Saya langsung beli 20 mesin,’’ tegasnya.

Ke-20 mesin itu ditempatkan di zona permainan anak di sebuah mall di Madiun. Benar adanya, tak butuh waktu lama untuk mengembalikan modal. Kebetulan, saat itu di Madiun belum banyak kompetitor. Sebagian dari pendapatan game inilah yang kemudian menjadi modal tambahan bisnis restoran. ‘’Binis game dan restoran hampir bersamaan bukanya,’’ jelasnya.

Bisnisnya bidang restoran, Sony sering membuka waralaba di beberapa daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sayang, sejumlah restonya tak bertahan lama. Dari kegagalan itu, Sony belajar tentang pentingnya sebuah tim yang hebat. ‘’Saya over confident dan terlalu ambisius, tapi punya tim yang kurang hebat. Saya banyak belajar dari kebangkrutan itu,’’ bebernya.

Puncaknya, sebuah resto bernama Fat 2 Guys berdiri megah di Jalan Pahlawan. Resto yang mengkonsep trend kekinian itu menjawab kegagalan bisnis sebelumnya.  ‘’Padahal di depannya juga ada rest franchise besar,  sampai dikira resto ini adalah franchise. Dua resto saya yang bukan franchise I-Club dan fat 2 guys,’’ jelasnya.

Bicara bisnis, Sony menggarisbawahi bila kebanyakan orang terlalu fokus dengan konten. Ibaratnya, bisa kopi enak tetapi kenapa tidak bisa membuat kaya sebagaimana starbucks?. ‘’Orang pergi ke starbuck bukan hanya karena kopi. Tapi untuk rapat, pertemuan, santai. Jadi how to sell itu penting,’’ paparnya.

Sony juga mendulang sukses di bisnis penjualan kendaraan. Marco motor terbukti menjadi dealer dengan penjualan tertinggi di eks Karesidenan Madiun. Padahal, baru didirikannya 18 bulan silam. Apa kuncinya?. Berani pasang target tinggi harus sepadan dengan kerja keras. Dari kesemuanya, satu hal yang jarang dilakuan pengusaha lain adalah terbuka masalah keuangan perusahaan dengan karyawan. ‘’Saya kasih lihat ke mereka (karyawan) kita butuh uang berapa untuk bayar operasional, gaji karyawan hingga security. Saya bilang, kita ini partner,’’ paparnya.

Pebisnis juga harus punya nyali. Soal keberanian, suami Jenny Sulistiowati ini mengaku banyak belajar dari Halim Hendarto, ayahnya yang juga pebisnis. Di mata bapak dua anak ini, dia pengusaha sukses yang nekat. ‘’Kalau mau hasil besar, saya jor-joran dengan iklan. Berani ambil risiko dengan terukur. Itu nyali,’’ paparnya.

Sony pun tak pernah pelit informasi. Selama ini, dia cukup disibukkan mengisi seminar di sejumlah kampus di Madiun. Baginya, bisnis itu seperti bermain game. ‘’Kalau menang, bisa lampaui target kan senang. Tapi juga ada timing-nya. Kalau memang waktunya harus berhenti ya berhenti. Jangan dipaksakan dan cari peluang bisnis lainnya,’’ imbaunya.

Tak lupa, pebisnis wajib belajar setiap hari. Pria yang hobi baca buku ini menyempatkan waktu membaca minimal setengah jam setiap harinya. Kebiasaan itu dilkoni setelah bangun pagi. Usai membaca bersantai sejenak. Sekitar 07.00 mulai bersepeda selama dua jam. ‘’Kaya tapi kalau nggak sehat buat apa,’’ selorohnya sembari berujar pernah bersepeda dari Madiun–Bandung 10 tahun silam. ***(dila rahmatika/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close