Magetan

Soal Tambahan 15 TPS di Temboro, Bawaslu Ragu, KPU Yakin Mampu

MAGETAN – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Magetan mempertanyakan tambahan 15 tempat pemungutan suara (TPS) di Desa Temboro, Karas. Mereka khawatir tak mampu mengakomodasi jumlah pemilih tambahan di Pondok Pesantren Al Fatah, desa setempat. Apalagi, pendataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Magetan belum paripurna. ‘’Harus ada antisipasi kalau ada pemilih tambahan masuk lagi,’’ kata Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Magetan Muries Subyantoro kemarin (18/2).

Menurut Muries, pihaknya tidak ingin sampai hari H pemilu masih ada pemilih yang tidak ter-cover di TPS yang ada. Apalagi, jumlah pemilih setiap TPS dibatasi maksimal 300 jiwa. Sehingga, ada baiknya KPU mengantisipasi sebelum terjadi kesalahan lantaran melebihi batas maksimal. Sehingga, semua santri yang memiliki hak pilih terakomodasi. ‘’Kami butuh kepastian, tambahan 15 TPS itu cukup atau tidak,’’ ujarnya.

Lebih baik, lanjut Muries, jika jumlah TPS berlebih dan tidak terpakai. Ketimbang kurang dan ada pemilih yang terpaksa golput. Tambahan pemilih di Desa Temboro harus jadi perhatian khusus. Selain memastikan tambahan TPS, bawaslu juga menunggu kepastian tambahan pemilih. Sebab, jumlah pemilih di ponpes berkembang setiap saat. ‘’Kami butuh kepastian, bukan sebatas perkiraan,’’ tegasnya.

Komisioner Perencanaan dan Data KPU Kabupaten Magetan Nur Salam memastikan tambahan 15 TPS di Temboro bisa mengakomodasi seluruh pemilih tambahan. Pemilih tambahan di Ponpes Al Fatah mencapai 3.145 jiwa. Setiap TPS maksimal hanya 204 jiwa pemilih. Sehingga, jika ada perkembangan, pemilih akan tetap terakomodasi. ‘’Masih ada restan cukup banyak,’’ katanya.

Jika nanti TPS di Ponpes Temboro tidak mampu menampung seluruh pemilih tambahan, akan digeser ke TPS reguler di luar ponpes. Ada 19 TPS di luar ponpes. Maksimal, jumlah pemilih di setiap TPS hanya 285 pemilih. Sekitar 1.000 santri belum terdata hingga kini lantaran berada di luar pondok. Sangat memungkinkan dimasukkan ke TPS-TPS tersebut. ‘’Di titik-titik TPS reguler, sudah kami petakan,’’ ungkapnya.

Pihaknya masih menunggu santri yang kini di luar pondok untuk didata. Pekan depan, para santri yang berdakwah dari desa ke desa itu baru pulang. KPU sudah koordinasi dengan pihak ponpes untuk pendataan tahap kedua. Namun, tidak semua santri memutuskan pindah pilih. Sebab, konsekuensinya hanya bisa ikut pemilu presiden (pilpres). Untuk pemilu legislatif (pileg) mereka tidak memiliki kesempatan jika berada di luar daerah pemilihan (dapil). ‘’Bisa jadi mereka memilih pulang untuk mencoblos,’’ tuturnya. (bel/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close