Soal Relokasi Pedagang PBN, Pemkab Akhirnya Melunak

88

NGAWI – Pemkab akhirnya melunak terkait rencana merelokasi Pasar Besar Ngawi (PBN) kelak selama proses renovasi pasar tersebut berlangsung. Pemkab menuruti keinginan pedagang direlokasi ke tempat tak jauh dari PBN.

Kepastian tersebut diperoleh saat paguyuban pedagang menemui bupati Jumat lalu (1/3). Langkah itu dilakukan setelah dalam pertemuan dengan dinas terkait sebelumnya mengalami deadlock soal tempat relokasi. ‘’Alhamdulillah Pak Bupati menyatakan kami akan direlokasi di sekitar pasar,’’ kata sekretaris Paguyuban Pedagang PBN Winarni.

Winarni mengungkapkan, pada Rabu (27/2) pihaknya mengikuti rapat dengan pemkab. Dalam pertemuan itu, kata dia, ditawarkan beberapa opsi kepada pedagang soal tempat relokasi. Yakni, kompleks eks kepatihan di Jalan Patiunus, Ketanggi.

Namun, pihaknya menolak dengan alasan lokasinya ’’tersembunyi’’ dan kurang familier di masyarakat. ‘’Kami khawatir nanti sepi karena banyak yang belum tahu mana eks kepatihan itu,’’ ungkapnya kepada Radar Ngawi.

Opsi kedua yang ditawarkan, lanjut Winarni, adalah Terminal Kertonegoro. Kebetulan di area tersebut terdapat lahan cukup luas yang tidak terpakai. Namun, pihaknya juga menolak karena lokasinya dinilai kelewat jauh. ‘’Pedagang di sini (PBN, Red) kebanyakan dari Ngawi utara. Kasihan yang sudah tua kalau harus bawa dagangan jauh-jauh ke sana,’’ tuturnya.

Di sisi lain, keinginan pedagang direlokasi ke jalan sekitar PBN juga belum ditolak pihak dinas terkait dengan alasan melanggar peraturan. Pertemuan pun mengalami deadlock. ‘’Waktu itu pihak dinas menyatakan bakal berkonsultasi dengan bupati, tapi kami sudah lebih dulu menemui beliau (bupati, Red),’’ paparnya.

Gayung bersambut. Bupati mengabulkan permintaan pedagang yang ingin direlokasi tak jauh dari pasar. Sama seperti ketika pemkab membangun PBN pada 1991 silam. Kala itu, kata Winarni, para pedagang juga direlokasi di jalan-jalan sekitar pasar.

Winarni menambahkan, sejatinya pedagang memahami kondisi sekarang jauh berbeda dengan 28 tahun silam. Terutama mengenai arus lalu lintas di jalan sekitar PBN. Pihaknya juga menyadari kini telah ada undang-undang yang mengatur larangan berjualan di badan jalan. Namun, mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan perlu dijadikan pertimbangan utama. ‘’Kalau kami jualan tapi tidak laku, dari mana dapat penghasilan?’’ tanyanya.

Sepengetahuan Winarni saat mengikuti rapat dengan pemkab, proses relokasi pedagang akan dilakukan sebulan sebelum bangunan pasar dibongkar Desember mendatang. Sedangkan pembangunan kembali diperkirakan dimulai Januari 2020.

Sementara, Bupati Budi ’’Kanang’’ Sulistyono saat hendak dikonfirmasi sedang berada di Solo. Ketika dihubungi Radar Ngawi tak direspons. Pun, pesan singkat yang dikirim tidak berbalas. (tif/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here