Soal Pengembangan Telaga Ngebel, Akademisi Minta Berkaca dari Sarangan

232

PONOROGO – Ambisi menjadikan 2019 sebagai tahun pariwisata terkesan utopis jika tak dibarengi kerja ekstrakeras. Sejumlah persoalan masih membayangi agenda besar pariwisata di kabupaten yang dipimpin Ipong Muchlissoni itu. Kalangan akademisi meminta pemkab menengok masyhurnya Telaga Sarangan sebagai objek wisata andalan Magetan. ‘’Masih berat kalau ingin selevel dengan Sarangan,’’ kata Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo Sulton kepada Radar Ponorogo kemarin (9/12).

Sulton mengapresiasi ambisi pemkab mulai menggarap pariwisata pada tahun depan. Namun, Sulton buru-buru mengingatkan bahwa butuh kerja keras dari semua pihak untuk bisa membangun industri pariwisata yang solid di Bumi Reyog. Urusan pertama yang harus ditangani adalah infrastruktur pendukung. Khususnya di Telaga Ngebel yang jadi objek wisata andalan. ‘’Di Sarangan, infrastruktur pendukungnya lengkap. Berbagai penginapan, akses jalan memadai, serta koneksi dengan wisata-wisata lain di sekitarnya,’’ ujarnya.

Menurut Sulton, banyak hal yang bisa dilakukan wisatawan di Sarangan daripada di Ngebel. Sekadar refreshing menikmati pemandangan, beristirahat, berbelanja, bahkan menggelar kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan urusan pekerjaan. ‘’Ngebel belum selengkap itu,’’ ungkapnya.

Parahnya, potensi di sekitar Ngebel justru terabaikan. Di saat daerah seperti Blitar hingga Tulungagung sukses membuat destinasi wisata lewat kampung cokelat atau kampung susu. Sementara di sekitar Ngebel, banyak perkebunan yang cocok jadi destinasi wisata tambahan bagi wisatawan. ‘’Butuh konsep. Sehingga bisa memperkuat daya tarik suatu objek wisata. Pemkab seharusnya bekerja bersama dengan kelompok masyarakat,’’ tegasnya.

Bicara infrastruktur, sejatinya tak hanya di Ngebel. Juga berbagai objek wisata indah lainnya. Sekalipun tidak dikelola langsung oleh pemkab, sepatutnya tidak abai dengan infrastruktur pariwisata. ‘’Banyak sekali yang sebetulnya potensial tapi tidak dikemas untuk mendatangkan wisatawan. Kalaupun sudah, aksesnya juga harus bagus,’’ terangnya.

Potensi lain yang harusnya dapat ditangkap adalah wisata budaya dan religi. Saat ini, sejumlah event kebudayaan dan religi sudah digelar. Namun, belum cukup menjadi magnet wisatawan dari luar daerah. Di sini, konektivitas antarwisata menjadi penting. Idealnya, wisatawan datang tidak sekadar menikmati satu atraksi. Namun, juga bisa menikmati berbagai wisata lainnya. ‘’Tidak sekadar datang di suatu event budaya atau religi, tapi juga bisa menikmati alam atau kuliner,’’ jelas Sulton.

Kepala DPUPR Jamus Kunto Purnomo mengamini jika infrastruktur menjadi persoalan serius yang harus diatasi. Supaya mendongkrak industri pariwisata di Bumi Reyog. Dia pun memastikan adanya sejumlah pekerjaan fisik berkaitan. Salah satu yang utama adalah pelebaran jalan selingkar Ngebel. Pihaknya bakal menggelontorkan anggaran mencapai Rp 3 miliar. Akses di seputar Ngebel juga ditangani hingga ke arah Gondowido dan Sugihan. ‘’Sejumlah jalan poros menuju berbagai objek wisata lain juga bakal kami tangani sesuai hierarkinya. Antarkecamatan atau antardesa,’’ urai Jamus. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here