Mejayan

Soal Pencemaran, PG RAB: Silakan Cek dan Telusuri

MADIUN – PG Redjo Agung Baru (RAB) menepis pencemaran udara di Gunungsari, Madiun. Pabrik gula itu balik menuding aroma busuk dan menghitamnya aliran sungai di desa itu dari limbah perusahaan lain. Sebab, jalur pembuangan hasil produksi RAB menuju Kelurahan Tawangrejo, Kartoharjo, Kota Madiun.

Kasi Umum PG RAB Sukamto tidak memungkiri bau busuk tercium kala melintas Jalan Raya Surabaya–Madiun. Juga mengetahui warna hitam di sepanjang aliran sungai sisi barat jalan. Lokasinya di Desa Gunungsari hingga Bagi. Sempat tebersit pencemaran sumbernya limbah RAB. Dia mencoba memastikan betul tidaknya dengan bertanya ke bagian quality control (QC). ‘’Ternyata bukan. Kemungkinan dari pabrik lain. Kota Madiun kan banyak pabrik,’’ tepisnya.

Sukamto menegaskan, pembuangan cairan limbah penggilingan bermuara ke sungai besar wilayah Balerejo, Madiun. Titik awal pembuangan dimulai dari sungai kecil di utara pos polisi simpang lima, Nglames. Alirannya melewati permukiman dan persawahan di Kelurahan Tawangrejo, Kartoharjo, Kota Madiun. Jalur itu sudah difungsikan sejak pabrik gula berdiri di era kolonial Belanda. ‘’Sampai sekarang tidak pernah berubah,’’ tegasnya.

Sukamto mengiyakan ketika disinggung ada aliran air limbah pabrik di area persawahan. Namun, aliran itu bukan dari jalur pembuangan pabriknya. Melainkan jalur air khusus untuk dialirkan ke petak sawah warga. Dia pun menyebut masyarakat memanfaatkan air limbah sebagai sarana irigasi pertanian. Sebab, jalur pembuangan di wilayah Nglames juga melintasi area persawahan.

Dia membenarkan sempat ada demo dari warga yang merasa terganggu bau busuk limbah belasan tahun lalu. Namun, protes kala itu dilakukan warga Nglames, bukan Gunungsari. ‘’Yang memprotes adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi pos polisi,’’ kenangnya.

Protes kala itu berhasil diredam setelah RAB menggelontorkan air bersamaan dengan pembuangan limbah. Sehingga aroma tak sedap cepat lenyap. Cara serupa juga dilakukan bila terjadi endapan sisa limbah. Terutama ketika produksi giling sudah selesai. Terlepas dari cara itu, Sukamto mengklaim pengolahan limbah sesuai standar. Yakni, menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). ‘’Kami selalu meminimalkan dampak lingkungan,’’ ujarnya.

Sukamto pun memastikan, pengendalian lingkungan sejauh ini telah berjalan baik. Apalagi RAB telah memperoleh program penilaian peringkat kinerja perusahaan (proper) biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Itu merupakan tanda perusahaan telah mencapai batas minimal persyaratan. Pihaknya juga rutin didatangi kantor lingkungan hidup (KLH) yang mengecek kadar limbah. ‘’Kami terbuka. Silakan KLH mengecek dan menelusuri,’’ tukasnya.

Pernyataan berbeda disampaikan Jono, warga desa setempat. Menurutnya, aliran air hitam dan berbau di Gunungsari itu berasal sungai kecil persawahan di Desa Tiron. Jalur penghubungnya dari saluran yang menyilang di bawah Jalan Raya Surabaya–Madiun. Lokasi saluran itu tepat di sebelah selatan Koperasi Marga Jaya Tiron. Sedangkan aliran sungai di persawahan Desa Tiron itu mengalir dari arah selatan. ‘’Sumbernya dari pabrik (RAB),’’ ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (28/7).

Sungai di area persawahan itu, tegas Jono, merupakan akses utama pembuangan limbah gula. Alirannya hingga sekitar gerbang masuk tol Madiun, Desa Bagi. Selain itu, tidak ada jalur lain. Dia pun tak membenarkan ketika disinggung arah air limbah menuju Tawangrejo.

Jono berani menjamin karena pernah menjadi karyawan pabrik RAB selama 36 tahun. Bertugas di bagian pengolahan membuatnya bersinggungan langsung dengan proses pembuangan limbah. Dia juga dipercaya menjadi pengawas pemanfaatan air limbah ketika pabrik berproduksi. ‘’Kalau Tawangrejo itu hanya daerah yang memanfaatkan air limbah,’’ papar pria yang mulai bekerja di RAB 1969 silam itu. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close