Soal Pembatasan Solar, Dewan-Pemkab Beda Pendapat

47

MADIUN – Sulitnya mendapatkan solar dua pekan terakhir turut membuat kalangan dewan khawatir. Persoalan krusial bagi petani di masa tanam ini tak boleh dibiarkan berlama-lama.

Ketua DPRD Kabupaten Madiun Suwandi berjanji segera memanggil SPBU dan Pertamina. Terkait problem tersendatnya pendistribusian solar ke masyarakat selama ini. Selain mengatur waktu rapat dengar pendapat (RDP) dengan disperta dan OPD terkait lainnya. ‘’Karena solar tidak hanya untuk petani. Ada kendaraan pribadi dan angkutan umum,’’ ujarnya.

Suwandi waswas krisis solar memengaruhi kondisi pertanian. Pasalnya, guyuran hujan saat ini belum intens dan merata. Sementara, belum semua petani punya sumur sibel dan masih banyak menggunakan diesel. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat waktu tanam padi terlambat dan memengaruhi kualitas dan hasil produksi. ‘’Hujan itu urusan yang di atas. Solar ini kebutuhan urgen bagi petani yang masih menggunakan diesel,’’ tuturnya.

Bupati Madiun Ahmad Dawami sudah meminta organisasi perangkat daerah (OPD) mengidentifikasi penyebab krisis solar dua pekan terakhir ini. Hasilnya secepatnya ditindaklanjuti dengan perlu tidaknya mengambil tindakan khusus. Salah satunya mengantisipasi agar tidak berdampak pada produktivitas padi di lumbung pangan Jatim Barat ini. Kendati demikian, dia optimistis hasil padi kelak tidak terganggu hanya karena sulitnya solar. Sebab, banyak petani beralih menggunakan sumur bermedia listrik. ‘’Apalagi saat ini sudah musim penghujan,’’ tegasnya.

Kabid Tanaman Hortikultura Disperta Kabupaten Madiun Sumanto memastikan tersendatnya distribusi solar ini belum berdampak serius bagi petani. Sulitnya memperoleh solar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih dalam batas wajar. ‘’Tidak berimbas pada masa tanam padi pertama,’’ urainya.

Sumanto menilai kondisi saat ini belum bisa dibilang langka. Kendati terjadi antrean panjang dan stok bahan bakar kosong di sejumlah SPBU. Alasannya, mereka masih bisa memperoleh solar kendati jumlahnya sangat terbatas. Di sisi lain, SPBU masih tetap menerima pasokan bahan bakar tersebut dari terminal BBM Pertamina Rayon V Madiun. ‘’Kecuali kalau memang stoknya betul-betul habis,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Disperta meyakini situasi saat ini tidak akan memengaruhi proses tandur padi hingga produksinya kelak. Selain karena belum fase kritis, sekitar 80 ribu petani di kabupaten ini tidak terlalu bergantung kepada solar. Cukup banyak warga yang menggunakan sumur pompa sibel listrik untuk memperoleh air. Disperta juga memperoleh informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa intensitas hujan dalam bulan ini cukup tinggi. ‘’Air hujan bisa membantu persoalan irigasi sawah,’’ terangnya.

Namun, disperta sudah menyiapkan langkah antisipasi seandainya krisis solar berkepanjangan. Yakni, mengoptimalkan keberadaan embung, waduk, dan dam. Tampungan air hasil guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir dirasa cukup untuk mengaliri puluhan hektare sawah. Dia pun merasa belum perlu menghubungi Pertamina karena belum menerima aduan masyarakat. ‘’Karena petani belum melapor, kami anggap situasi masih aman,’’ katanya. (mgc/cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here