Soal Keluarga Lukki, Kades Sebut Pemecahan Solusi Sangat Dilematis

289

MADIUN – Pj Kepala Desa Bulu Salam terbata-bata saat meluruskan klaim memperbolehkan menempati lahan. Yang sebenarnya adalah pemdes menyerahkan keputusan ke Lukki dengan segala konsekuensinya. Juga, ada arahan bila siap menempati, juga harus siap diusir. Karenanya, bangunan yang didirikan tidak permanen, melainkan gubuk. Pihaknya tidak bisa memutuskan lantaran lahan yang jauhnya sekitar dua kilometer dari Waduk Kedungbrubus itu bukan aset desa. ‘’Kami sendiri tidak bisa memastikan lahan itu milik Perhutani atau BBWS Bengawan Solo,’’ katanya kemarin (3/2).

Salam memfasilitasi perubahan kartu keluarga (KK) karena administrasinya sebatas identitas domisili. Konteksnya tidak berkaitan legalitas tempat tinggal. Beda cerita bila niatannya membangun rumah permanen. Pengajuan izinnya tentu ditolak. Dia menganggap keluarga Lukki punya pemikiran konservatif kala disinggung pemdes membiarkan warga menempati lingkungan yang tidak mendukung. Baik untuk kehidupan saat ini maupun pengaruh di masa depan. ‘’Mereka sudah telanjur nyaman,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun Sugiharto telah menerjunkan anak buahnya untuk mengecek kondisi rumah Lukki. Setelah menerima laporan fasilitator wilayah Pilangkenceng dan pemdes beberapa hari lalu, dia berjanji segera berkoordinasi dengan dinas perumahan dan kawasan permukiman (disperkim). Ihwal bisa-tidaknya dimasukkan dalam program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). ‘’Bangunanannya tidak layak ditempati,’’ tuturnya Rabu lalu (30/1).

Akan tetapi, Sugiharto belum bisa memastikan kemungkinan relokasi. Pasalnya, keputusan Lukki menyepi di tengah ladang atas dasar inisiatif sendiri. Selain ingin hidup mandiri, juga mendekatkan dengan lokasi bercocok tanam. Lembaganya khawatir Lukki enggan pindah ke tempat yang disediakan dan jauh dari lokasi mata pencariannya. ‘’Ini sangat dilematis. Perlu ada pendekatan dengan keluarga dan pemdes,’’ urainya.

Dia membenarkan keluarga Lukki belum pernah menerima bantuan pemerintah pusat. Sebab, namanya tidak tercantum dalam basis data terpadu (BDT). Padahal, sistem data elektronik yang memuat data diri dan keterangan dasar sosial ekonomi kurang mampu masyarakat se-Indonesia itu sebagai acuan menerima berbagai program bantuan sosial (bansos). ‘’Sudah dicek, namanya tidak terdaftar,’’ tegasnya.

Sugiharto berdalih faktor regulasi pemerintah pusat yang membuat Lukki belum masuk BDT. Lembaganya mengkroscek BDT awal dari data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 99.544 jiwa. Verifikasi dan validasi (verval) harus dilakukan karena data lawas. Hasil sensus warga miskin periode 2007–2015. Hasil penyempurnaan berkurang menjadi 77.363 jiwa karena meninggal dunia atau sudah mampu. Sementara, Permensos 10/2016 tentang Mekanisme Penggunaan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin melarang verval di luar data awal demi menghindari kerancuan. ‘’Artinya, dibereskan dulu data warga yang ternyata sudah mampu tapi masih dapat bantuan,’’ paparnya.

Verval yang juga disebut inclusion error itu tuntas November 2018. Namun, dinsos urung pendataan warga miskin yang belum ter-cover BDT. Sebab, Kementerian Sosial (Kemensos) membatasi verval hanya bisa dilaksanakan dua kali setahun. Rencananya, verval lanjutan dengan nama exclusion error digelar bulan ini hingga Maret nanti. Nama Lukki bisa dimasukkan BDT dengan syarat ada pengajuan dari pemdes. ‘’Kami upayakan bisa memperoleh bantuan,’’ terangnya.

Jenis bantuan setelah terdaftar BDT nantinya pun belum bisa dipastikan. Kemensos yang berhak menentukan berdasar tingkat ketidakmampuan. Ada persentase nilai di rentang 0–40 persen berdasar berbagai kriteria. Persentase 11 persen ke bawah berhak menerima bantuan seperti program keluarga harapan (PKH). Sedangkan 11–25 persen bisa mendapat bantuan pangan nontunai (BPNT). Kemudian, 25–40 persen bisa menikmati layanan kesehatan. Masing-masing punya komponen tersendiri. ‘’Kalau melihat status Lukki yang punya anak kecil, kemungkinan bisa masuk 11 persen. Bantuannya nanti cukup banyak,’’ ungkapnya.  (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here