Soal Kasus DBD di Luworo, Dinkes Bantah Lamban Pencegahan

153

MADIUN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun langsung melakukan fogging ke empat rukun tetangga (RT) di Luworo, Pilangkenceng, kemarin (18/12). Merespons meninggalnya warga setempat yang terjangkit demam berdarah dengue (DB). Permukiman di RT 10, 12, 13, dan 15 dinyatakan endemis. ‘’Setelah dilacak epidemiologi atas laporan, ada kasus DB di daerah itu,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun Agung Tri Widodo.

Langkah pengasapan pestisida harus dilakukan karena penderita DBD di sana cukup masif. Ada sejumlah warga yang sempat dan masih menjadi pasien rumah sakit. Fogging untuk mencegah penyebaran virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti. Dinkes juga menyosialisasikan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menutup, menguras, dan mengubur serta penggunaan lotion (3M plus). ‘’Fogging dilakukan kembali pekan depan,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Agung menolak ketika disinggung langkah pengasapan terlambat lantaran baru dilakukan setelah jatuh korban. Dalihnya, fogging tidak hanya di Luworo. Timnya telah melakukan pengasapan merata di seluruh Kabupaten Madiun sebanyak 130 kali sejak Januari. Ada tidak kasus, kegiatan itu tetap dijalankan. Program tidak melihat berapa banyak penderita DB di sebuah wilayah. ‘’Melainkan trombosit di bawah 100 ribu dari normal 200 ribu sebagai acuan seseorang terkena DB. Warga kan tidak bisa memastikan itu,’’ bebernya.

Terlepas persoalan itu, fogging dipandang bukan solusi mutlak. Langkah terbaik adalah mencegah lewat PSN, 3M plus, dan penerapan juru pemantau jentik (jumantik) satu orang di satu rumah. Penekanannya program itu disosialisasikan ke masyarakat. Melibatkan bidan desa dan petugas puskesmas. ‘’Sudah kami lakukan, memang butuh waktu karena berkaitan dengan kebiasaan,’’ tuturnya.

Menurut Agung, tempat tinggal warga penderita DBD di Luworo tidak kumuh. Namun, lingkungan khas pedesaan dengan banyak pepohonan dan tanaman memungkinkan muncul banyak genangan air pascahujan. ‘’Karena itulah pentingnya PSN,’’ tekannya.

Serangan DBD seringkali di luar prediksi dokter. Trombosit bisa cepat mudah turun seiring lemahnya kondisi tubuh penderitanya. Hal itu pula yang ditengarai menimpa Eka. Ketika diperiksa di awal belum terdeteksi adanya bintik. Namun, ketika diketahui, trombositnya sudah sangat rendah sekitar 60 ribu. ‘’Kondisinya saat masuk sudah sangat drop,’’ katanya.

Terhitung kemarin, ada 111 kasus DBD. Jumlahnya meningkat signifikan dari tahun lalu yang cuma 87 kasus. Warga yang menjadi korban sama-sama satu orang asal Kelurahan Munggut, Wungu. Peningkatan itu disebabkan siklus musim. Serta tingkat PSN warga di suatu wilayah. ‘’Penderitanya didominasi anak-anak karena ketahanan fisik yang lebih lemah,’’ ucapnya.

Terpisah, Kaur Kesejahteraan Rakyat Desa Luworo Mardji menyebut warganya baru melapor ke pemerintahan desa (pemdes) bahwa terjadi kasus DB setelah Eka meninggal dunia. Tanpa ada pemberitahuan, pihaknya tidak tahu sama sekali. Di lain pihak, alasan warga tidak segera melapor karena menganggap yang terjadi hanya sakit biasa. ‘’Meski tidak banyak, tahun lalu ada warga yang terkena DBD. Kalau sampai meninggal dunia baru kali ini,’’ paparnya.

Menurut Mardji, DBD mulai menyerang dua bulan lalu. Saat itu, seorang warga mulai diopname. Sebulan kemudian rentetan itu baru terjadi. Data yang masuk di tempatnya, ada empat warga dengan masing-masing dua di RT 13 dan 12. Dua di antaranya masih diopname. Berkaca kejadian itu, pemdes mencoba menggerakkan warga untuk membersihkan lingkungan. ‘’Ya, mungkin tidak bisa terlalu bersih karena permukiman pedesaan yang banyak ilalang dan pepohonan,’’ ujarnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here