Soal Eksodus Warga Watu Bonang, Ipong Minta Pemkab Malang Tak Diam

170

PONOROGO – Hijrahnya 52 warga Watu Bonang, Badegan, ke Kasembon, Malang, sudah terpantau Pringgitan. Bupati Ipong Muchlissoni meminta masyarakat tetap menjaga kondusivitas dan mencerna berbagai berita maupun informasi terkait viralnya kabar tersebut. ‘’Tentu saya prihatin, masih ada yang percaya dengan hal-hal seperti itu,’’ kata Ipong kepada Radar Ponorogo kemarin (13/3).

Laporan yang diterima Ipong, hijrahnya puluhan warga Watu Bonang itu untuk menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Malang. Yang disayangkan Ipong, munculnya informasi yang menyebut bahwa warga Watu Bonang boyongan ke Malang karena percaya isu-isu terkait. ‘’Mereka percaya bahwa dunia segera kiamat, dan jika ikut Pak Kiai di ponpes itu, katanya bisa selamat. Mereka telanjur percaya dan meyakini,’’ ujar Ipong.

Ipong meminta warga Bumi Reyog mencerna berita maupun informasi mengenai hijrahnya warga Watu Bonang secara bijak. Dia juga meminta berbagai pihak bersama-sama membina masyarakat dengan baik. ‘’Harus ada upaya serius dari ormas keagamaan, MUI, termasuk pemprov maupun Pemkab Malang untuk menangani pusat ajaran tersebut di Kasembon, Malang,’’ pintanya.

Ipong juga berjanji akan terus melakukan pembinaan kepada masyarakat demi menjaga kondusivitas di Bumi Reyog. ‘’Pemkab akan terus mengadakan pembinaan agar pengikutnya tidak meluas,’’ imbuh bupati.

Hingga kemarin, belum ada kabar pasti yang diterima warga di Watu Bonang mengenai hijrahnya 52 jiwa dari desa setempat. Keluarga yang ditinggalkan hanya berharap ada kabar dari mereka yang pergi ke Malang tersebut. Seperti yang diungkapkan Katiyem kepada koran ini. Menantunya mendadak pergi tanpa alasan yang jelas sejak Senin lalu (4/3). Padahal, putrinya baru dinikahi kurang dari setahun lalu. ‘’Cuma bawa pakaian dan uang. Anak saya sempat mencegah, tapi tetap tidak dihiraukan,’’ tutur warga 45 tahun itu. (naz/mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here