Madiun

SMPN 6 Bukan HCS, Melainkan CHSS

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Masa lalu SMPN 6 Kota Madiun bukan Hollandsch-Chineesche School (HCS) atau Opera Hwie Ing Kiong. Melainkan Chung Hwa Sie Siauw (CHSS).

Agus Hartono, saksi sejarah bangunan di Jalan HOS Cokroaminoto itu menghubungi Jawa Pos Radar Madiun, Sabtu (16/11). Kakek 80 tahun itu memberikan kesaksiannya seputar lembaga pendidikan yang di masa lalu dikenal sebagai Sekolah China tersebut. ‘’Saya alumninya. Lulus sekitar 1960-an, sebelum benar-benar ditutup,’’ kata Agus Hartono.

Agus masih ingat betul, Sekolah China itu tidak hanya menampung peranakan Tionghoa dari kota setempat. Murid berdatangan dari berbagai daerah di Madiun Raya. Mulai Kabupaten Madiun, Ponorogo, Magetan, hingga Ngawi. CHSS itu dibangun oleh orang-orang Tionghoa yang datang melalui pintu perdagangan di kota setempat. Sayangnya, Agus tidak ingat betul tahun berapa sekolah itu didirikan. ‘’Yang jelas, sekolah di situ tingkatannya kalau sekarang mulai SD, SMP, hingga SMA,’’ ungkapnya.

Tenaga pengajarnya didatangkan langsung dari Republik Rakyat Tiongkok (RTT). Agar bahasa Tionghoa yang diajarkan tidak terintervensi dengan bahasa lokal. Agus masih ingat betul pada sosok Cho Mei Chen —guru bahasa tionghoa favoritnya yang juga didatangkan dari daratan RRT. Selain fasih berbahasa tionghoa, sosoknya baik dan mudah memahami murid-muridnya. ‘’Kebetulan juga guru kelas saya. Sangat enak ngajarnya,’’ kenangnya.

Dari dulu hingga sekarang, bangunan CHSS belum banyak mengalami perubahan. Mulai aula, kantor, hingga kelas yang membujur ke barat di kedua sisi aula. Hanya, direnovasi untuk memperbaharui tampilan. Seperti penambahan keramik dan cat dinding. Dia juga masih ingat aula sekolah itu selain difungsikan untuk acara sekolah, juga disewakan untuk umum. Mulai pernikahan, hingga acara pertunjukan lainnya. Di belakang aula terdapat ruangan lorong bawah tanah. Dulu difungsikan untuk ruang ganti dan rias saat pertunjukan. ‘’Jika tidak ada pertunjukan, ruang itu digunakan untuk menyimpan perlengkapan acara,’’ sambungnya.

Di masanya, sekolah itu mengalami kejayaan dan menjadi pusat aktivitas pendidikan bagi peranakan etnis Tionghoa. Siswanya mencapai ratusan. Tidak hanya mengajarkan bahasa Tionghoa, juga ilmu umum. Mulai bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, dan pelajaran lainnya. Seperti sekolah kebanyakan, kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.00-13.00. Selepas Jepang menyerah 1945 silam, CHSS hampir menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Di mana ada perkampungan Tionghoa, dipastikan berdiri CHSS. Biasanya, didirikan secara swadaya. Mereka yang mayoritas sebagai pedagang mendermakan hartanya. Menegaskan spirit etnis Tionghoa dalam membekali pendidikan bagi anak-anaknya di tanah rantau. Riwayat CHSS tamat setelah peristiwa G 30 S-PKI 1965 silam. Ketika itu pemerintah melalui tangan militer menutup operasional seluruh Sekolah China di penjuru tanah air. ‘’Termasuk CHSS Kota Madiun,’’ kenangnya. (kid/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close