SMPN 2 Kwadungan Terdampak Banjir Paling Parah

89

NGAWI – Berdasarkan pendataan dinas pendidikan (dindik), jumlah sekolah yang terdampak banjir pekan lalu sebanyak 44 lembaga. Perinciannya, 15 PAUD/TK, 26 SD, 2 SMP, dan 1 SMA. Total kerugiannya mencapai sekitar Rp 200 juta.

Kerusakan terparah akibat banjir menimpa SMPN 2 Kwadungan. Sedangkan sekolah-sekolah lain hanya tergenang dan tidak sampai merusak bangunan fisik maupun sarana dan prasarana. Pun, kegiatan belajar-mengajar (KBM) hampir 100 persen pulih kembali.

‘’Sudah mulai normal kembali,’’ kata Kadindik Ngawi Abimanyu usai mendampingi kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di SMPN 2 Kwadungan kemarin (12/3).

Pantauan Radar Ngawi di SMPN 2 Kwadungan, masih banyak meja dan kursi ditumpuk di dalam kelas. Ada juga yang dijemur di halaman sekolah. Selain itu, beberapa buku pelajaran maupun dokumen terlihat berserakan di lantai ruang kelas, teras, maupun halaman.

Kepala SMPN 2 Kwadungan Titis Pambudi menuturkan, banjir mulai masuk kompleks sekolahnya pada Rabu lalu (6/3). Namun, kala itu hanya jalan depan sekolah yang tergenang. Kamis pagi (7/3), air meninggi hingga masuk ke dalam sekolah. Beberapa ruang kelas terendam sampai setinggi satu meter. ‘’Selama banjir, siswa kami liburkan,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, sampai kemarin KBM belum bisa digelar. Namun, kegiatan ujian praktik kelas IX yang sempat tertunda beberapa hari akibat banjir sudah bisa dilaksanakan kemarin. ‘’Ini anak-anak masih menyelesaikan bersih-bersih. Rencananya, KBM dimulai besok (hari ini, Red),’’ imbuh Titis.

Titis menyebut, upaya pembersihan lumpur sisa banjir di sekolahnya memakan waktu lama. Selain karena kondisinya paling parah, hal itu disebabkan pihaknya kekurangan tenaga. ‘’Hanya dibantu relawan dari SAR MTA dan PMI Surabaya,’’ tuturnya.

Diakuinya, dampak banjir pekan lalu cukup parah. Hampir semua pagar yang mengelilingi gedung sekolah roboh diterjang derasnya air. Banjir, kata dia, juga merusak sedikitnya delapan unit komputer. ‘’Sebenarnya sudah kami amankan, tapi meja tempat kami menaruh komputer itu ambruk karena arus airnya waktu itu memang sangat deras,’’ paparnya.

Titis mengatakan, prioritas saat ini adalah pembersihan ruang kelas supaya bisa segera digunakan. Setelah itu, pihaknya bakal mengupayakan bantuan komputer. Sebab, selama ini sekolahnya sudah menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) secara mandiri. ‘’Belum tahu nanti apakah masih bisa mandiri atau gabung ke sekolah lain,’’ katanya. (tif/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here