SMK Kesehatan PGRI Nebeng SMKN 2 Magetan

56

MAGETAN – Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Berbeda SMK, berbeda pula permasalahannya. Jika SMK Berlian Nusantara harus meminjam laptop guru agar bisa menggelar UNBK, SMK Kesehatan PGRI Magetan justru menggabung ke SMKN 2 Magetan untuk bisa menggelar UNBK. Ada delapan siswa SMK Kesehatan PGRI Magetan yang mengikuti UNBK tahun ini. ’’Secara administrasi ikut di kami,’’ kata Kepala SMKN 2 Magetan Bambang Mulya Hartono.

Rupanya, bukan hanya SMK Kesehatan PGRI Magetan yang menginduk UNBK pada SMKN 2 Magetan. Namun, juga SMK Persatuan Maospati. Jumlah siswanya lebih sedikit, yakni 4 siswa. Penggabungan itu bukan hanya pada saat pelaksanaan. Melainkan sejak pembimbingan proktor. Setelah UNBK berakhir, kedua sekolah yang menginduk padanya itu juga wajib melaporkan pelaksanaannya. ’’Kami pantau terus apakah ada kendala,’’ ujarnya.

Penggabungan itu bukan pada pelaksanaan. Pelaksanaannya tetap dilakukan di sekolah masing-masing. Sehingga, sekolah tetap harus menyediakan client, server, hingga jaringannya. Pelaksanaannya memang tidak menjadi satu di SMKN 2 Magetan. Sebab, setiap sekolah memiliki kode akses sendiri. Akan sangat merepotkan jika pelaksanaannya juga digabung. Harus memindahkan server. ’’Dilaksanakan di sekolah masing-masing malah lebih efektif. Satu sesi selesai,’’ tuturnya.

Diakui Bambang, tidak sulit mengoordinasi tiga sekolah sekaligus dalam pelaksanaan UNBK. Kemudahan teknologi saat ini sangat membantu. Via grup WhatsApp, dia selalu memantau pelaksanaan UNBK di dua sekolah yang menginduk padanya itu. Setiap selesai pelaksanaan UNBK, pihak sekolah selalu memberikan laporan lengkap. ‘’Kunci pelaksanaan UNBK itu pada proktor dan teknisi yang terlatih, jaringan internet lancar, sudah aman,’’ tekannya.

Dari tahun ke tahun, dijelaskan Bambang, pihaknya memang menerima penggabungan dari sekolah lain. Dia tak mempermasalahkan hal tersebut. Asalkan pelaksanaan UNBK tetap digelar di sekolah masing-masing. Jika nebeng pada sekolahnya, itu akan memanjakan sekolah kecil. Mereka tidak akan berusaha untuk survive dan keenakan nebeng. ‘’Ketika sudah berkomitmen mendirikan sekolah, ya harus siap dengan semua sarpras (sarana dan prasarana, Red),’’ ungkapnya.

Sejatinya, pihak SMKN 2 Magetan tidak menawarkan diri ataupun SMK Kesehatan PGRI Magetan dan SMK Persatuan Maospati yang menawarkan diri untuk menggabung UNBK. Namun, karena kedua sekolah swasta itu tidak mampu menjadi penyelenggara, pihak cabang dinas pendidikan wilayah Jatim menunjuk SMKN 2 Magetan sebagai induk. ’’Karena kami ditunjuk, ya kami terima,’’ terangnya.

Meski digabungi oleh sekolah lain, bukan berarti SMKN 2 Magetan bebas masalah. Sejatinya, PC yang stand by di laboratorium tidak cukup. Sehingga, harus menggunakan stok laptop yang disulap menjadi client. Dia juga tertolong keberadaan kompetensi teknik komputer jaringan (TKJ) dan multimedia. Laptop dan PC yang dimiliki laboratorium kedua kompetensi itu bisa digunakan untuk men-support UNBK. Ada 416 siswa yang mengikuti UNBK pada SMKN 2 Magetan. ‘’Kami membagi menjadi tiga sesi di tujuh laboratorium,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here