Madiun

Smartphone Hadiah Hamba Allah untuk Wahyu

Tidak Lagi Menyeberang Sungai untuk Nebeng Belajar

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Cengkerama keluarga Slamet Nursanto di dalam rumah sejenak terhenti begitu mendengar suara ketukan pintu sekitar pukul 20.00 Rabu (5/8). Di balik pintu kayu warga Desa Brumbun, Wungu, Kabupaten Madiun, itu, berdiri seseorang tidak dikenal.

Mengaku sebagai Hamba Allah, kedatangannya untuk memberikan satu unit smartphone kepada Wahyu Agus Nurtino, anak Slamet. Dermawan itu tahu jika remaja 12 tahun itu tidak punya handphone. Sehingga kesulitan menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara virtual. ‘’Pemberinya tidak mau memberi tahu nama dan rumah,’’ kata Wahyu Kamis (6/8).

Wahyu tentu gembira dengan hadiah gadget produksi Korea Selatan itu. Siswa kelas VI SDN Brumbun itu tidak perlu lagi menyeberangi sungai mendatangi rumah kawannya yang memiliki smartphone. Nebeng untuk mengakses tugas atau materi pelajaran yang dibagikan guru via WhatsApp (WA).

Kemarin Wahyu coba menggunakan smartphone di teras rumahnya. Duduk di kursi kayu yang menempel tembok berwujud batu bata, dia serius berselancar di ruang maya. Mencari referensi pelajaran. ‘’Mengejar ketertinggalan mata pelajaran matematika,’’ ungkap anak tunggal Slamet itu.

Slamet mengucap syukur karena Wahyu bisa belajar online seperti teman sebayanya. Kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuk membelikan smartphone. Apalagi, penghasilannya sebagai pekerja serabutan seret karena pandemi Covid-19. ‘’Semoga dapat membantu belajar, tidak dipakai untuk main,’’ ujarnya sembari mengucap terima kasih kepada sang dermawan.

Dia mengungkapkan, selama PJJ, anaknya harus ke rumah teman sekelas untuk belajar bersama. ‘’Rumahnya di dusun sebelah. Biar lebih dekat, harus menyeberang sungai. Kebetulan saat ini airnya surut,’’ ungkapnya. (den/c1/cor)

Cari Solusi tanpa Tabrak Regulasi

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun mengapresiasi langkah SMPN 1 Nglames. Sejumlah guru bersedia meminjamkan smartphone-nya kepada anak didik yang terkendala pembelajaran jarak jauh (PJJ). ‘’Termasuk solusi untuk memenuhi hak belajar siswa,’’ kata Kabid Pembinaan SMP Dikbud Kabupaten Madiun Hendro Suwondo Kamis (6/8).

Hendro menegaskan, dalam kondisi pandemi Covid-19, yang paling diutamakan adalah aman dan sehat. Bila keduanya sudah terpenuhi, yang harus dipenuhi berikutnya adalah hak belajar anak. ‘’Selama tidak menyalahi aturan Covid-19 yang telah ditentukan, tidak apa-apa dilakukan,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, banyak kendala dalam pelaksanaan PJJ. Mulai jangkauan internet hingga kondisi ekonomi orang tua yang tidak mampu memfasilitasi pembelajaran virtual. Upaya yang telah dilakukan belum 100 persen bisa mengatasi persoalan tersebut. Setiap sekolah sudah memiliki data anak didik yang pelaksanaan KBM daringnya terhambat. ‘’Prinsipnya, sekolah punya hak untuk berkreasi dan mencari solusi. Tapi, tidak menabrak regulasi Covid-19,’’ terangnya.

Puluhan ribu pelajar di 406 SD dan 48 SMP di Kabupaten Madiun harus menggelar KBM virtual. Kendala internet terjadi di wilayah dengan geografis pegunungan. Seperti Kecamatan Saradan, Gemarang, Kare, Dagangan, dan Pilangkenceng. ‘’Tidak total semua wilayah menyeluruh, hanya di daerah dataran tinggi,’’ ujar Hendro.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa SMPN 1 Nglames harus ke sekolah setiap hari untuk mengikuti KBM daring. Penyebabnya, tidak memiliki smartphone. Kebutuhan peranti itu dipinjami oleh guru lembaga pendidikan tersebut. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close