SMAN Ngos-ngosan Penuhi Pagu

235

KOTA – Nasib sial dialami seluruh SMA negeri di Pacitan. Hingga berakhirnya penerimaan peserta didik baru (PPDB), tidak satu pun yang memenuhi pagu. SMAN 1 Pacitan yang notabene sekolah favorit, misalnya, hanya berhasil menjaring 256 calon siswa dari kuota 288. Butuh satu rombongan belajar (rombel) lagi untuk mencukupi pagu.

Pantauan di website PPDB Jatim, kondisi terparah dialami SMAN Nawangan. Sekolah di wilayah barat Pacitan itu hanya diminati 69 calon siswa. Padahal, pagu mencapai 160. ”Banyak yang kekurangan pendaftar,” kata Kasi SMA/SMK dan PKLK Cabdindik Jatim Wilayah Pacitan Pambudi kemarin (29/6).

Menurut dia, kondisi defisit calon siswa tersebut tidak hanya terjadi tahun ini. Pada 2017, sebagian besar SMA negeri juga kekurangan murid. ‘’Mungkin karena keberhasilan KB (keluarga berencana, Red), jumlah lulusan SMP/MTs menurun,’’ tuturnya.

Kendati semua sekolah masih defisit pendaftar, Pambudi meminta semua calon siswa melanjutkan tahapan PPDB. Salah satunya mendaftar ulang. Sementara, terkait kekurangan pagu pihaknya menunggu keputusan Dinas Pendidikan Jatim. ‘’Kekurangan siswa terjadi di berbagai daerah, terutama non-kota besar,’’ ujarnya.

Kekurangan murid dibenarkan Harnuji, kepala SMAN Tulakan. Sejauh ini sekolahnya baru menjaring 124 calon siswa dari pagu 192. Dia menduga, kondisi tersebut disebabkan banyak calon siswa yang memilih melanjutkan studi ke SMK. ‘’SMK kan lulus bisa langsung kerja. Kalau SMA kebanyakan melanjutkan ke perguruan tinggi,’’ tutur pria yang juga ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Pacitan ini.

Buka ’’Lapak’’ di Sekolah Tetangga

Sementara itu, sejumlah SMP negeri di wilayah kota kelimpungan. Penyebabnya, hingga gelombang pertama penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2018 ditutup gagal memenuhi pagu. Untuk mengejar defisit tersebut, beberapa sekolah sengaja membuka ’’lapak’’ di SMPN tetangga.

SMPN 3 Pacitan, misalnya, calon siswa yang mendaftar hanya 87. Nah, untuk mendongkrak angka itu, pada gelombang kedua, sekolah tersebut membuka pendaftaran di SMPN 2. ‘’Memang kurangnya masih banyak,’’ kata Widorini, panitia PPDB SMP3 Pacitan.

Widorini menyebut, SMPN 2 dipilih sebagai lokasi pendaftaran lantaran pagu siswanya telah terpenuhi. ‘’Biasanya kami membuka pendaftaran di SMPN 1. Tapi, karena tahun ini pagu sekolah itu juga tak terpenuhi akhirnya beralih ke SMPN 2,’’ terangnya.

Dia menambahkan, kondisi defisit siswa itu terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, gelombang pertama PPDB di sekolahnya hanya mampu menjaring 50 siswa. Beruntung, pada gelombang kedua terdapat tambahan 39 siswa.

Namun, tahun ini dia pesimistis sekolahnya bisa menjaring lebih banyak siswa dari gelombang kedua. Pasalnya, sekolah yang mengalami defisit pendaftar bertambah.

Membuka pendaftaran di SMPN 2 juga dilakukan SMPN 4 Pacitan. Sejauh ini, SMPN 2 baru menjaring 154 calon siswa dari pagu 192. ‘’Mudah-mudahan pendaftar terus bertambah sampai memenuhi pagu,’’ harap Reni Tyas Pramuasih, panitai PPDB SMPN 4 Pacitan, sembari menyebut tahun lalu sekolahnya hanya defisit tak lebih dari 20 siswa.

Rini menuding tingginya angka defisit siswa merupakan imbas sistem zonasi yang mulai diterapkan tahun ini. ‘’Dulu siswa dari Kecamatan Tulakan banyak yang sekolah di sini. Tapi, setelah ada zonasi jumlahnya jauh berkurang,’’ tuturnya.

Suparmi, salah seorang warga, menyebut sistem zonasi membuat anaknya gagal masuk SMPN 2 Pacitan. Pun dia terpaksa mendaftarkan anaknya ke SMPN 4. ‘’Pilihan terakhirnya itu. Kemarin sempat mau cabut berkas juga tak bisa,’’ ujarnya. (odi/mg7/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here