Slamet Riyadi, Mantan TKI yang Jadi Buruh Tani dengan Satu Tangan

41

PONOROGO – Keterbatasan tidak membuat Slamet Riyadi patah semangat. Sebagai tulang punggung keluarga, warga Desa Kunti, Bungkal, Ponorogo, itu harus melakoni pekerjaan sebagai buruh tani dengan satu tangan.

Mesin penggiling gabah menderu di pematang tengah sawah. Para petani sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sebagian memanen padi dengan sabit. Sebagian lainnya, mengangkat tumpukan batang padi ke tepi. Diletakkan di samping mesin penggiling. Di antara mereka ada yang berbeda. Slamet Riyadi. Penuh semangat dan selalu tersenyum memanggul batang padi dengan satu tangannya.

Kecepatan dan kekuatannya bekerja tidak berbeda dengan orang normal lainnya. Tumpukan batang padi diraihnya dengan tangan kiri dan memanggulnya di pundak kanan. Lalu dipindah di pundak kiri. Sembari tangannya memegang erat tumpukan padi tersebut. Dia berjalan meletakan ke dekat mesin penggiling. ‘’Yang penting sehat, tetap semangat bekerja,’’ tuturnya.

Keterbatasan itu tidak membuat Slamet rendah diri. Justru dari kekurangan itulah dia terus memompa semangat untuk bekerja. Maklum laki-laki 68 tahun itu merupakan tulang punggung keluarga. Untuk menghidupi dua anak dan istrinya dia bekerja sebagai buruh tani. Sebetulnya, sejak kecil Slamet terlahir normal. Hingga dewasa dan berkeluarga. Bahkan masih lekat dalam ingatannya saat tangan kanannya bersalaman dengan istri dan anaknya sebelum merantau ke Malaysia dua puluh tahun lalu. ‘’Waktu itu saya bekerja bertahun-tahun sebagai tukang bangunan,’’ lanjutnya.

Kecelakaan menimpa Slamet 2004 silam. Waktu itu, dia sedang mengerjakan proyek di lantai tiga. Tiba-tiba di terjatuh. Nahas, balok beton penyangga lantai itu roboh. Menimpa tangan kanannya. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit di negeri jiran tersebut. Pun dokter harus mengamputasinya. Sebab, tangan kanannya remuk. Pilihan itu harus diterimanya. ‘’Setelah dirawat saya pulang ke Indonesia,’’ ungkapnya.

Hujan tangis keluarga menyambut kedatangan Slamet saat kembali ke kampung halaman. Awalnya, dia sempat putus asa lantaran tidak dapat bekerja lagi. Namun keluarga dan teman-teman terus memotivasinya. Apalagi melihat anaknya yang butuh biaya pendidikan. Selang sebulan, dia dipanggil majikan kembali ke Malaysia. Untuk mengambil uang santunan atas musibah yang menimpanya. Dari situ semangat bekerja terpompa. Teman kerjanya di negeri jiran terus meyakinkan Slamet bisa bekerja seperti orang normal. ‘’Setengah bulan kemudian saya kembali lagi ke Indonesia,’’ sambungnya.

Di kampung halaman dia mampu menghilangkan trauma yang sempat menderanya. Sejak itu dia jadi buruh tani menggarap sawah orang lain. Pekerjaan mencangkul, menanam padi, dan mengurus sawah pun dikuasai. Hanya, dengan keterbatasan itu dia tidak dapat mengoperasikan mesin traktor. Jerih payahnya bisa untuk menyekolahkan anaknya hingga di bangku perguruan tinggi. ‘’Selagi saya masih bisa dan sehat, anak harus sekolah setinggi-tingginya. Sudah lama saya punya cita-cita buat tangan palsu, agar saat lebaran bisa salaman. Sudah puluhan kali lebaran saya tidak bisa salaman,’’ ucap bapak dua anak tersebut.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here