Situs Watu Lumpang di Mentoro Terancam Hilang

244

PACITAN – Pendangkalan Sungai Grindulu tak hanya berdampak pada ekosistem air. Gerusan alirannya juga mengancam salah satu bukti sejarah. Yakni, situs Watu  Lumpang  yang konon merupakan peninggalan zaman Majapahit. ‘’Ada dua batu lumpang. Bahkan, dulu ada tiga. Satunya, Watu Kethu, dicuri,’’ kata Slamet Hariadi, juru kunci situs Watu Lumpang, kemarin (14/1).

Dua buah batu berbentuk setengah lingkaran berdiameter 50 sentimeter tersebut dari kejauhan tak ada bedanya dengan batu pada umumnya. Namun, situs di Dusun Duduhan, Mentoro, Pacitan, itu konon merupakan peninggalan Syeh Maulana Magribi, tokoh penyebar Islam di daerah tersebut.

Bahkan, tak sedikit warga yang meyakini, jika seseorang membawa pulang batu tersebut hal buruk bakal menimpa warga sekitar. ‘’Dulu, dua atau tiga tahun lalu, ada yang membawa pulang untuk dijadikan koleksi. Akibatnya, salah satu keluarganya mengalami gangguan kesehatan. Setelah dikembalikan akhirnya sembuh,’’ ujarnya.

Kini, lanjut Slamet, situs yang juga destinasi wisata minat khusus atau religi tersebut merana. Banjir Sungai Grindulu beberapa tahun terakhir mengikis area situs. Kini bibir sungai hanya berjarak tak lebih dari empat meter dari letak dua batu tersebut. Dia khawatir derasnya aliran sungai bakal menerjang dua benda yang dikeramatkan tersebut. ‘’Akibat banjir 2017 lalu, beberapa makam dan musala di sini rusak. Bahkan musalanya hanyut terbawa aliran sungai,’’ ungkapnya.

Karena itu, Slamet berharap normalisasi Sungai Grindulu bisa direalisasikan. Pasalnya, sebelum tertimpa bencana silam, situs tersebut ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Namun, kini lokasi tersebut layaknya tempat yang terlupakan lantaran sepi pengunjung.

Rencananya, jika terpaksa, dia dan masyarakat setempat bakal merelokasi tempat bersejarah tersebut. Meski diakuinya itu opsi terakhir ketimbang situs rusak diterjang banjir. ‘’Dulu pernah sekali sempat dipindahkan, mungkin alasannya juga sama,’’ duganya.

Slamet menyebut, akhir tahun lalu 15 makam di desa tersebut terpaksa dipindah lantaran terancam gerusan Sungai Grindulu. Warga khawatir makam leluhur mereka hanyut. Saat itu jarak bibir sungai dengan makam hanya sekitar tiga langkah. Dibantu ulama dan sesepuh setempat, mereka memindahkan makam lainnya ke beberapa tempat berbeda. ‘’Saat ini makamnya masih ditempati, tapi mepet dengan tanggul,’’ tuturnya.

Dari tahun ke tahun, lanjut dia, garis tepi Sungai Grindulu di desanya kian mendekati tanggul. Saat ini memang masih berjarak sekitar 10 meter. Namun, warga mulai waswas lambat laun bakal tergerus. Sebab, dampak bencana 2017 lalu, menggerus sekitar lima meter tanah di bibir sungai. ‘’Dulu, waktu saya masih kecil, lokasi sungainya jauh dari sini,’’ kenangnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here