Siti Ngaisah, Guru Honorer yang Juga Usaha Bubuk Kopi Jahe

44
TEMBUS MINIMARKET: Siti Ngaisah (kanan) memilah-milah irisan jahe sebelum disangrai dengan biji kopi.

Siti Ngaisah mengawali usaha bubuk kopi dengan semangat anti-mainstream. Sangrai biji kopi robusta dicampur irisan jahe. Produk guru TK honorer ini laris manis hingga Jogjakarta.

————– 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

AROMA kopi dan jahe silih berganti menusuk hidung. Salah satu sudut ruangan rumah Siti Ngaisah di Dusun Suruhan, Sirnoboyo, Pacitan, dipenuhi irisan jahe tipis. Di dapur, perempuan itu menumpahkan biji kopi yang menghitam dari penggorengan ke sebuah tampah. ‘’Saya usaha bubuk kopi jahe,’’ katanya.

Siti menekuni bisnis kopi jahe 2014 silam. Intuisinya meyakini usaha itu bakal booming. Mengingat penyuka minuman hitam berkafein itu datang dari berbagai kalangan. Selain itu, pekerjaan selingan di rumah setelah pulang mengajar. ‘’Karena tidak punya kegiatan, itung-itung cari tambahan penghasilan,’’ ujar guru honorer di TK desa setempat itu.

Meski belajarnya otodidak, perempuan 52 tahun tersebut ingin membuat kopi anti-mainstream. Hingga muncul ide menambah rasa jahe. Sangrai biji kopi robusta kabupaten ini dicampur irisan jahe. Kemudian ditumbuk manual. Bubuk yang dihasilkan lantas dikemas plastik bening. Sebelum akhirnya dititipkan ke sejumlah warung sekitar tempat tinggalnya.  ‘’Ada yang mau dan tidak. Dulu, satu plastik harganya Rp 2 ribu,’’ ungkapnya seraya menyebut ciri khas lain bubuk kopi tidak terlalu halus.

Setelah dua tahun, bubuk kopi jahe buatan Siti mulai dikenal. Permintaan stok untuk sejumlah warung pun meningkat. Karena laris manis, anaknya memberi saran agar bubuk dikemas lebih modern. Melebarkan sayap usaha dengan pangsa minimarket. Namun, angan-angan itu menemui banyak kendala. Salah satunya penolakan karena produk belum punya izin. ‘’Tiga tahun lalu mulai masuk minimarket setelah mengurus perizinan,’’ tutur ibu tiga anak itu.

Total 14 minimarket bersedia memajang produk kopi jahe Siti. Satu di antaranya di Jogjakarta. Belasan minimarket minta pasokan ketika stok habis. ‘’Untung bersih sekitar Rp 2 juta per bulan,’’ sebutnya ditanya soal omzet.

Siti hanya mau menyangrai kopi robusta asli Pacitan. Persediaan bahan itu dari pasar tradisional di Nawangan. Rata-rata membutuhkan satu kuintal kopi kupas per bulannya untuk produksi. ‘’Sekarang sudah ada empat varian kopi, jahe menjadi ciri khasnya,’’ ujarnya. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here