Mulai Tahun Ini SD-SMP di Kota Madiun Lima Hari Sekolah

281
KBM: Pelajar SD-SMP negeri di Kota Madiun mulai tahun ajaran baru 2019–2020 bakal menerapkan kebijakan lima hari sekolah.

MADIUN – Persis tiga bulan setelah dilantik, Wali Kota Madiun Maidi mengeluarkan surat edaran (SE) yang berkaitan dengan kebijakan lima hari sekolah. Edaran bernomor 420/401.101.2019 itu mendasar pada Permendikbud 23/2017 tentang hari sekolah. Isinya memberlakukan kebijakan lima hari sekolah mulai jenjang pendidikan dasar hingga menengah pertama (SMP) sejak tahun ajaran (TA) baru 2019–2020.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun Heri Wasana mengatakan, saat sebelum kebijakan itu diputuskan, wacana penerapan lima hari sekolah telah disepakati oleh seluruh jenjang sekolah SD dan SMP.

Dengan dipangkasnya satu hari efektif sekolah, maka sekolah harus melakukan penyesuaian jadwal. Khususnya mengatur mekanisme kegiatan belajar-mengajar (KBM) serta tambahan jam istirahat. ’’Konsep penerapan lima hari sekolah itu dimulai dari pukul 07.00—15.00. Termasuk jam tambahan ekstrakurikuler,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun Rabu (3/7).

Sedangkan terkait struktur mata pelajarannya, Heri menyatakan sama sesuai kurikulum 2013 (K-13). Sekaligus tujuannya untuk kepentingan penguatan pendidikan karakter. ‘’Pelaksanaan lima hari sekolah justru bagus untuk menanamkan karakter siswa,’’ ujarnya.

’’Mereka punya waktu belajar yang lebih di sekolah. Karena berada di lingkungan sekolah, siswa terkontrol,’’ imbuh mantan kabid pendidikan dasar (pendas) tersebut.

Sekda Kota Madiun Rusdiyanto menambahkan, dengan lima hari sekolah, para peserta didik dapat lebih mengembangkan potensi dirinya. Karena itu, pada tahun ajaran baru ini dindik akan menerapkan kebijakan itu secara serentak. Baik di SD maupun SMP negeri.

Pertimbangan menerapkan sistem sekolah lima hari tersebut sesuai dengan instruksi dan format yang diberikan pemerintah. ’’Penerapan lima hari sekolah bukan berarti menghilangkan kegiatan yang ada di rumah, tapi justru mendorong anak untuk memperkuat pendidikan karakter,’’ kata mantan kepala BPKAD itu.

Walaupun sebagian sekolah sudah menerapkan kebijakan ini sebelumnya, Rusdiyanto menegaskan setiap sekolah tetap harus memikirkan kesiapannya. Terutama demi memenuhi kebutuhan siswa. Sebab, dengan sistem sekolah lima hari, peserta didik akan pulang hingga sore.

Sehingga sambil berjalan, beberapa fasilitas harus memadai. Sekolah perlu memperhitungkan sekaligus melengkapinya nanti. Mulai dari musala hingga kebutuhan kantin untuk makan siang siswa. ’’Karena ini juga sistem baru untuk Kota Madiun. Maka segala infrastruktur penunjangnya perlu disiapkan. Dan, itu telah dilakukan,’’ terangnya.

Walaupun dalam lima hari sekolah nanti jam belajar semakin lama karena pulang hingga pukul 15.00, namun para siswa tidak ada kewajiban untuk ke sekolah pada hari Sabtu dan Minggu.

Sehingga mereka bisa menggunakan waktunya dengan keluarga maupun bersosialisasi dengan lingkungan. ’’Satu hal yang tetap ingin kami perhatikan, bukan berarti kalau nanti lima hari sekolah itu kesempatan untuk TPA dan sebagainya berkurang, itu nggak. Justru kami dorong. Jadi, konsepnya nggak jauh beda dengan fullday school,’’ jelas Rusdiyanto. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here