Sinyal Gawat Pertarungan Panas di Dapil ’’Neraka’’

66

MGAWI – Praktik money politics diprediksi masih mewarnai hajatan pemilu legislatif (pileg). Bahkan, cenderung masih tinggi. Berdasarkan hasil survei internal yang dilakukan salah seorang pengamat politik khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) Ngawi I (Ngawi, Pitu, Kasreman) menunjukkan tingkat kewajaran mencapai sekitar 35 persen dari total pemilihnya. ’’Saya menganggap ini (toleransi terhadap politik uang, Red) cukup tinggi,’’ kata Agus Muhammad Fathoni, pengamat politik Ngawi.

Dia menyebut total pemilih di Dapil Ngawi I kurang lebih ada sebanyak 107 ribu jiwa. Dari jumlah sebanyak itu, perkiraannya sekitar 35 ribu pemilih menganggap wajar atau biasa ada praktik bagi-bagi uang sebelum proses pencoblosan nanti. Di antara ketiga wilayah kecamatan di dapil tersebut, wilayah Kecamatan Ngawi sebesar 30 persen, Kecamatan Kasreman 34 persen, dan Kecamatan Pitu 36 persen. ’’Itu jika pemilu dilaksanakan saat ini, yang menganggap wajar (politik uang) sebanyak itu,’’ sebutnya.

Atong -sapaan Agus Muhammad Fathoni- mengungkapkan, dari sekitar 35 ribu pemilih itu masih terbagi dalam empat karakter atau model. Model pertama yang juga paling tinggi adalah pemilih yang menerima semua uang dari calon anggota legislatif (caleg), tapi tetap akan memilih sesuai hati nuraninya. Kedua, ada pemilih yang menerima semua uang dari caleg tapi hanya akan memilih yang dia kenal. ‘’Entah itu yang dikenal baik atau sekadar kenal, itu yang belum diketahui,’’ ungkapnya.

Ketiga, ada juga pemilih yang menerima semua uang pemberian caleg tapi tidak memilih semuanya. Menurut Atong, pemilih dengan karakter atau model seperti itu biasanya yang membuat banyak caleg gagal. Lalu, yang terakhir adalah pemilih yang menerima semua uangnya tapi akan memilih yang paling besar. ’’Untuk jumlah yang terakhir ini paling kecil persentasenya jika dibandingkan dengan yang lain,’’ terangnya.

Masih tingginya persentase itu juga dianggap Atong bakal terjadi pertarungan panas di dapil ’’neraka’’ money politics di Dapil Ngawi I. Dia juga beranggapan bahwa semakin meningkatnya swing voters atau pemilih mengambang itu ada kaitannya dengan angka-angka tersebut. Karena menurut Atong, tingginya angka pemilih mengambang itu lantaran kinerja semua caleg di dapil tersebut masih kurang maksimal dan cenderung pada politik praktis. (tif/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here