Simulasi Coblosan: Enam Menit di Bilik Suara

33

PACITAN – Ada lima jenis surat suara dalam Pemilu 2019. Sehingga, butuh waktu untuk membuka, mencoblos, dan melipatnya kembali. Apalagi, beberapa jenis ukurannya cukup lebar. Belum lagi pemilih berkebutuhan khusus, dipastikan butuh waktu lebih lama di bilik suara. ‘’Karena itu,  kami gelar simulasi. Sekaligus sosialisasi. Kami sengaja menghadirkan pemilih dari berbagai kategori,’’ kata Sulis Setyorini, komisioner Divisi Teknis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pacitan, kemarin (28/3).

Hasil simulasi coblosan, rata-rata setiap pemilih butuh waktu dua hingga tiga menit di bilik suara. Sementara waktu lebih lama didapati dari kategori pemilih berkebutuhan khusus. Baik disabilitas, tuna-aksara, pemilih yang tak mampu memfungsikan anggota tubuhnya dengan maksimal, hingga lansia. Rata-rata butuh lima hingga enam menit. ‘’Jumlah pemilih di setiap TPS juga memengaruhi waktu,’’ jelas Rini, sapaan perempuan berjilbab ini, sembari menyebut pihaknya juga menyiapkan pendamping bagi pemilih yang butuh bantuan saat coblosan.

Dari simulasi kemarin, petugas di setiap tempat pemungutan suara (TPS) juga harus bekerja keras. Sebab, untuk penghitungan surat suara diprediksi berakhir hingga tengah malam. Estimasinya, untuk 28 pemilih, KPU menyimulasikan butuh waktu 1,5 jam untuk penghitungan. Jika dikalikan 280 pemilih di setiap TPS, diperkirakan bakal butuh 10 hingga 11 jam. ‘’Belum lagi untuk  menyalin dari C1 plano ke C1 sertifikat, itu butuh waktu dua sampai tiga jam. Diperkirakan, pukul 03.00 atau 04.00 dini hari baru selesai untuk seluruh proses penghitungan suara di TPS,’’ urainya.

Dari simulasi juga didapati halusnya surat suara yang tercoblos. Sehingga, petugas penghitungan harus memperhatikan betul. Terlebih di lembaran surat suara berukuran besar, seperti DPR RI, DPRD provinsi, serta DPRD kabupaten. ‘’Kurang mantap coblosannya, jadi harus dilihat lebih teliti,’’ terangnya sembari menyebut tak boleh mengganti alat coblos atau dinyatakan tidak sah.

Berbeda dengan pemilu sebelumnya, kali ini petugas linmas bakal diganti petugas ketertiban TPS. Meski perannya tak jauh beda, namun petugas tersebut tak dituntut menggunakan seragam linmas saat coblosan. Namun, tak melarang pemerintah desa untuk menambah petugas linmas berjaga di TPS. ‘’Tidak wajib ada (linmas, Red), tapi kalau petugas ketertiban TPS ada,’’ ungkapnya.

Rini berharap, simulasi pemungutan suara menyadarkan masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya 17 April mendatang. Pun berbagai kelompok seperti disabilitas, lansia, hingga pemilih berkebutuhan khusus turut diajak simulasi. Dia berharap angka golput dapat ditekan. ‘’Semua kami undang, agar masyarakat tahu cara memperlakukan pemilih berkebutuhan khusus,’’ pungkas Rini. (gen/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here