KriminalitasNgawi

Sikapi Upaya Penipuan, Dindik Kumpulkan Kepala SMP

NGAWI – Dalang di balik kasus penipuan yang menyasar puluhan orang tua siswa SMP hingga kini masih gelap. Apalagi, Dinas Pendidikan (Dindik) Ngawi menyebut sejauh ini belum ada laporan resmi dari pihak sekolah bersangkutan.

Kendati demikian, dindik tidak mau tinggal diam menyikapi praktik kejahatan memanfaatkan hubungan psikis orang tua dan anak tersebut. Para kepala SMP akan dikumpulkan. Itu dilakukan untuk mengetahui jumlah wali murid yang telah maupun nyaris menjadi korban penipuan. ‘’Sekalian nanti agar secepatnya memberi imbauan kepada murid-muridnya,’’ kata Kabid Pembinaan SMP Dindik Ngawi Muh. Luluk Sodiki kemarin (5/4).

Rencananya, lanjut Luluk, data korban maupun yang nyaris kena tipu akan dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). ‘’Seharusnya, hanya satu operator dapodik di tiap sekolah, dan hanya operator itu yang tahu password untuk mengaksesnya,’’ ujarnya.

Luluk menyebut, kasus dengan modus serupa sempat terjadi empat tahun silam. Tepatnya saat dia masih menjabat kepala SMPN 2 Ngawi. Pun, Luluk tahu persis dampak keresahan yang ditimbulkan kala itu. ‘’Kalau benar identitas murid serta orang tua yang menjadi sasaran berasal dari dapodik (data pokok pendidikan), harus segera ditangani ini,’’ tegasnya.

Dia berharap, siswa maupun orang tua benar-benar jeli saat menerima informasi dari orang tak dikenal. Apalagi, yang ujung-ujungnya meminta transferan sejumlah uang.

Diberitakan sebelumnya, puluhan orang tua siswa SMPN 4 Ngawi dan SMPN 5 Ngawi menjadi sasaran penipuan melalui sambungan telepon. Bahkan, salah seorang wali murid telanjur menransfer uang Rp 4,2 juta.

Modus yang digunakan pelaku adalah mengabarkan bahwa anak mengalami insiden dan harus segera ditangani. Yang mengherankan, si penelepon mampu menyebutan identitas anak dan orang tua dengan jelas. Termasuk nama guru dan dokter yang disebut menangani pelajar yang mengalami celaka.

Berdasar pengakuan sejumlah orang tua yang telah mendapat telepon semacam itu, pelaku diduga beraksi tidak sendirian. Sambungan telepon dilempar ke tiga nomor telepon berbeda. Biasanya, dimulai penelepon pertama –menyaru dari pihak rumah sakit– sebagai pemberi kabar. Kemudian, guru yang mengantar anak. Terakhir, dokter dan penyebutan nominal biaya operasi. (den/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close