Terdakwa Pembunuhan Ini Menangis di Persidangan

64

MAGETAN – Lanjar bin Sukarto Dimin nyaris tak bisa berkata-kata. Terdakwa pembunuhan itu sesekali menatap langit-langit ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Magetan, kemarin (2/5). Bayangan Ida Winarsih, 30, istri seolah hadir di sidang kali ketiga tersebut.

Terdakwa 35 tahun itu tergugu. Suaranya terputus-putus ketika menceritakan kembali malam jahanam yang membuatnya naik pitam pertengahan Januari lalu. ‘’Niat saya sebenarnya baik,’’ terangnya dengan mata berlinang.

Ketua Majelis Hakim Maulia Martwenty Ine sempat kesulitan mencerna keterangan terdakwa. Lantaran disampaikan secara terbata-bata dengan bahasa Indonesia campuran Jawa. Namun, kendala itu tak berlangsung lama setelah komunikasi dijembatani oleh Michael LN, anggota majelis hakim. ‘’Dia (korban) menolak (hubungan intim) dengan kasar akhirnya cekcok,’’ lanjut terdakwa.

Kerinduan terdakwa terhadap istrinya memang sudah di ubun-ubun. Lantaran, sudah lama tidak bersua. Selama 1,5 tahun terakhir bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan, terdakwa baru dua kali ini pulang ke Magetan. ‘’Saat itu pulangnya sudah dua hari. Tetapi saya wira-wiri ke rumah sendiri (Gonggang, Poncol) dan rumah mertua (Getasanyar, Sidorejo),’’ tutur ayah satu anak yang masih kelas 6 SD itu.

Sayangnya, keterangan yang disampaikan terdakwa tak bisa langsung dilengkapi keterangan saksi. Lantaran, seorang kerabat korban yang disiapkan untuk memberikan keterangannya tak menghadiri sidang. ‘’Agenda hari ini sebenarnya masih meminta keterangan saksi. Karena yang bersangkutan berhalangan akhirnya kita lanjutkan pemeriksaan terdakwa,’’ jelas Maulia Martwenty Ine.

Kendati demikian, majelis hakim telah mengantongi keterangan dari beberapa saksi yang telah dihadirkan sebelumnya. Selanjutnya, tinggal mengkroscek antara pengakuan terdakwa dengan keterangan saksi yang telah ada. ‘’Nanti kita cocokan keterangan terdakwa dengan BAP (berita acara pemeriksaan) dari penyidik, ‘’ terangnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yudhita Ramadhan masih menyangkakan terdakwa dengan Pasal 44 ayat 1 UU 23/2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Atas perbuatannya yang tega menghabisi nyawa istrinya sendiri karena tidak mau diajak hubungan intim. ’’Korban meninggal setelah punggungnya ditusuk dua kali dengan pisau dapur,’’ ungkapnya.

Yudhita tak ingin berspekulasi perihal penyesalan terdakwa yang diutarakan dalam persidangan. Kendati sikap itu bisa memberikan nilai plus untuk meringankan hukuman, pihaknya pilih menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada majelis hakim. ‘’Agenda berikutnya masih pemanggilan saksi,’’ tandasnya. (mgc/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here