Sibuk Berkesenian, Ayu Putri Wulandari Tak Lupakan Sekolah

94

Kesenian tradisi jaran thek tak hanya didominasi laki-laki. Di Desa Candi, Kecamatan Mlarak, kesenian itu dimainkan oleh Ayu Putri Wulandari. Dara kelahiran 2002 itu bisa dikatakan satu-satunya pemain jaran thek perempuan di Ponorogo.

—————–

GELEGAR suara cambukan pecut raksasa kala disabetkan. Menandai keluarnya iringan penari jaranan. Menari gemulai mengikuti irama gamelan. Menyusul kemudian jaran thek dengan topeng menyerupai naga. ‘’Sebenarnya penari jathil, cuma semakin ke sini kayaknya saya cocoknya jaran thek, karena tomboi,’’ kata Ayu Putri Wulandari.

Ayu merupakan satu-satunya pemain jaran thek perempuan di Bumi Reyog. Kesenian tradisional itu mulai dicintainya dua tahun silam. Setelah sebelumnya lebih menggeluti tari jathil sejak duduk di bangku sekolah dasar. Menginjak kelas VII SMP, Ayu mulai pentas ke desa-desa. Semakin lama, dia semakin penasaran dengan ragam kesenian lain. Rasa penasarannya kian menjadi saat menyaksikan seni jaran thek. ‘’Akhirnya bergabung dengan paguyuban tari jaran thek di tempat tinggal saya,’’ ujarnya.

Awal belajar, Ayu bergabung dengan Paguyuban Manunggal Tri Budoyo, Desa Candi, Mlarak. Saat pertama mengenakan barongan jaran thek, dia merasa aneh. Apalagi pakemnya berbeda dengan tari jathil yang sudah dikuasai. Sepulang latihan, lehernya tidak bisa dibuat menoleh alias tengengen hingga sepekan. Tapi, Ayu tak kapok. Dua kali sepekan dia giatkan latihan untuk mendalami teknik dan pakem tari tradisional tersebut. Dia juga harus membiasakan diri mengenakan barongan jaran thek berbentuk kepala naga yang beratnya lima kilogram. ‘’Setelah rajin latihan, lama-kelamaan menguasai,’’ ungkap bungsu tiga bersaudara pasangan Affandie-Katmiyatun itu.

Meski terbilang baru dalam seni jaran thek, nama Ayu langsung populer. Sebab, selain perempuan, Ayu juga dikenal dengan sifatnya yang tomboi. Penampilannya tak kalah atraktif dengan penari lain yang kebanyakan laki-laki. Kini, dia telah keliling tampil dalam berbagai hajat desa di daerah setempat. Dalam waktu dekat, Ayu berencana tampil di luar kota. Seperti Pacitan, Magetan, dan sekitarnya. Sibuk berkesenian tak membuatnya melupakan kewajiban sekolah. Ayu tetap membagi waktu untuk belajar. Termasuk membantu orang tua di rumah. ‘’Harus pandai bagi waktu,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here