Setelah Paris ke Swedia

74

SEBAGAI ibu rumah tangga, tidak berarti perempuan hanya berdiam diri tidak bisa memiliki penghasilan. Hanya dari rumah saja, di era digital ini perempuan bisa melakukan apa pun. Tidak terkecuali memiliki penghasilan tinggi. Rika Dwi Ekasari, misalnya.

Hanya bermodalkan smartphone, ibu dua anak asal Desa Prayungan, Sawoo, Ponorogo, itu bisa menghasilkan Rp 14-17 juta per bulannya.

Bahkan dia juga berkesempatan liburan gratis ke Paris, Perancis, tahun lalu. Pertengahan tahun ini, dia bakal liburan ke Swedia. Hasil itu berkat Rika secara bijak menggunakan media sosial. Dia berhasil mewujudkan bahwa medsos tidak melulu berisi tentang hoax. ’’Perjalanannya panjang untuk sampai ke posisi sekarang ini,’’ kata Rika.

Hasil itu didapatkan Rika dari jalan memasarkan produk kosmetik dan kesehatan. Rupanya hasil yang dia nikmati sekarang ini tidak datang dengan sendirinya. Melainkan melalui jalan panjang yang kadang menukik dan menikung. Berawal dari tawaran seorang sahabat di awal 2015 lalu yang telah menekuni usaha tersebut.

Rika kemudian mencoba membuktikan omongan sahabatnya itu. Awalnya sempat kesulitan dan tidak percaya diri saat harus menawarkan produk tersebut. Sehingga sempat berhenti dan menjauhkan diri dari medsos. ’’Pada intinya kehilangan mimpi, merasa tidak memiliki prestasi. Itu yang membuat menyerah dan down,’’ ujar perempuan kelahiran 1994 itu.

Kondisi tersebut hanya sesaat dialami Rika sebelum akhirnya kemudian bangkit dan berjuang kembali. Penghasilan awal yang diterimanya hanya Rp 38 ribu per bulan. Dari situlah justru mimpi semakin dia bangun. Dia rela menyisihkan waktunya untuk promosikan produk di medsos hingga empat kali. Pun tak bosan dia menyapa para pelanggan dan tim melalui WhatsApp. Selang dua tahun, perjuangan membuahkan hasil. Penghasilannya semakin meningkat tiap bulannya.

Baginya, meskipun mimpinya telah tercapai, bukan berarti berhenti melangkah. Dari situ, dia kembali ingin mewujudkan mimpi selanjutnya. Pun upaya itulah yang digunakan untuk merawat motivasi menggeluti usaha tersebut. Terpenting dari situlah untuk memerangi hoax yang ramai di media sosial akhir-akhir ini. Dia ingin membuktikan bahwa medsos tidak hanya berisi tentang hoax, melainkan dapat digunakan mewujudkan impian. ‘’Semua orang bisa, asalkan ada kemauan dan merawat konsistensi,’’ ucap jebolan Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun jurusan Kebidanan 2014 itu. (mg7/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here