Setahun, 1.203 Perempuan Ajukan Gugatan Cerai

76

MADIUN – Jumlah perempuan yang ingin mengakhiri hubungan suami-istri lebih banyak dari laki-laki. Di Kabupaten Madiun, istri yang mengajukan gugat mencapai 1.203 perkara. Terpaut jauh dari suami yang mengajukan talak sebanyak 469 perkara. ‘’Faktor yang mendominasi adalah ekonomi dengan 729 perkara. Sedangkan 401 perkara karena ketidakharmonisan,’’ kata Sugeng, humas Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.

Adapun total 1.672 perkara sepanjang 2018, rekapitulasinya tak jauh beda dari 2017. Jumlah dan faktor yang melatarbelakangi setiap tahunnya pun rata-rata sama. Jarang ada kenaikan atau penurunan signifikan. ‘’Biasanya lebih karena diawali salah satunya terlalu lama meninggalkan pasangannya dua tahun atau lebih. Bahkan, tidak diketahui lagi keberadaannya,’’ beber Sugeng.

Namun, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga melatarbelakangi sejumlah perkara. Kebanyakan, pihak istri yang menjadi korbannya hingga tak kuasa untuk mengajukan gugatan ke pengadilan agama. ‘’Tapi, muaranya tetap persoalan ekonomi yang di kemudian hari memicu keretakan rumah tangga. Tapi jumlahnya tidak banyak,’’ tuturnya.

Hadirnya orang ketiga, lanjut Sugeng, turut menjadi faktor perpecahan dalam rumah tangga. Membuat hubungan suami-istri tak harmonis lagi sehingga salah satu pasangan yang diduakan berniat mengakhirinya. ‘’Pengajuan perkara juga untuk memperjelas pembagian harta setelah berpisah,’’ paparnya.

Sugeng menegaskan, hampir keseluruhan pemohon didominasi kalangan swasta. Dari kalangan PNS, TNI/Polri, hanya sekitar satu persen dari 1.672 perkara. Selain itu, dari kalangan TNI/Polri memerlukan izin terlebih dahulu dari satuannya. ‘’Ada, tapi sedikit,’’ tandasnya. (mg4/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here