Sertifikat Tanah Rusak, Buku Pelajaran Robek

103
KEDALUWARSA: Roti yang sudah lewat masa konsumsi sempat diterima warga Plumpung, Glonggong, Balerejo, Jumat (8/3).

SUMITRO menjemur beberapa lembar surat penting di rumahnya. Kemarin (8/3), air belum benar-benar surut di Dusun Plumpung, Desa Glonggong, Kecamatan Balerejo. Warga di wilayah terdampak banjir terparah itu banyak yang kehilangan dokumen penting. ‘’Ada yang kerendam, ada yang hanyut,’’ ungkap Sumitro, warga setempat.

Tak banyak yang bisa diselamatkan Sumitro. Surat-surat penting yang dia simpan di lemari banyak yang hilang entah kemana. Hanya tersisa sertifikat tanah. Itu pun sudah tak karuan bentuknya. Rendaman banjir membuat dokumen pertanahan yang dimilikinya rusak parah. ‘’Kartu keluarga dan dokumen penting lainnya tak tahu lagi di mana. Entah kapan bisa mengurus lagi,’’ tegasnya.

Upaya serupa juga dilakukan Sartono. Siang kemarin, warga Desa Purworejo, Kecamatan Pilangkenceng itu tengah sibuk menata buku lembar kerja siswa (LKS) milik cucunya. Dengan telaten, buku-buku pelajaran yang basah dan hampir robek itu dijemurnya di pinggiran Jalan Raya Krapyak. ‘’Ini hanya beberapa saja,’’ urainya.

Dari sebuah lemari yang hilang, Sartono kehilangan pakaian dan surat-surat berharga. Selain buku pelajaran milik cucunya tersebut. Air yang meluap cepat saat banjir membuatnya tak bisa banyak berpikir. Selain mengutamakan keselamatan diri dan anggota keluarganya. ‘’Banyak yang hilang.’’

Di Balerejo, sejumlah bantuan yang tersalurkan tak layak konsumsi. Seperti roti kemasan yang diterima warga Plumpung, Glonggong. Bahkan, ada yang sudah berjamur. ‘’Saya terima roti ini sepulang dari pengungsian, Jumat (8/3). Pas bersih-bersih ada yang ngasih nasi, roti dan air mineral. Setelah saya buka ternyata rotinya jamuran,’’ ungkap Sarimo, warga RT 3 RW 2.

Sarimo lantas memperingatkan tetangganya yang juga menerima bantuan roti agar mengecek tanggal kedaluwarsa-nya. Setelah dilihat, ternyata hampir semuanya sama. Sebagian ada yang masih mendekati tanggal kedaluwarsa. Beruntung, nasi dan makanan bantuan lainnya tidak mengalami hal sama. ‘’Kami akhirnya berhati–hati,’’ katanya.

Sarimo berharap para pemberi bantuan hendaknya memperhatikan kelayakan makanan yang akan diberikan. Karena, jika tidak layak tentu bakal semakin menyusahkan penerima bantuan. Dia juga berharap dinas terkait ikut mengecek. ‘’Karena kami sebenarnya tidak terlalu membutuhkan makanan. Kami lebih butuh air minum,’’ ungkapnya.

Menanggapi itu, Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten  Madiun, Erwina Purnamasari mengaku tak bisa mengecek bantuan yang disalurkan secara langsung. Namun, setiap bantuan yang dilewatkan posko pasti disortir terlebih dahulu. Seperti di Posko Klumutan yang menemukan makanan kemasan yang sudah tak layak konsumsi. ‘’Kebetulan saya ngecek. Langsung saya suruh relawan memusnahkannya,’’ ungkap Erwina.

Dia juga berharap setiap pemberi bantuan dilewatkan lembaganya agar terkontrol dengan baik. Atau, setidaknya dilaporkan ke posko tujuan. Guna meminimalisasi kelalaian donatur yang dimungkinkan tak sempat mengecek kelayakan makanan yang disalurkan. ‘’Terkadang, banyak yang tidak sabaran dan langsung mendistribusikannya ke pengungsi. Itu yang jadi kendala kami,’’ tandasnya. (mg4/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here