Litera

Sersan Gundul

Cerpen Nad Rasya Annelies

”Ndul, Gundul…”

”Ndul, Gundul…”

Panggilan tak mendapat respons. Bukan karena pria plontos yang telentang di atas kursi kayu panjang itu sedang pulas tidur, tapi si Gundul tak mau lagi dipanggil Gundul. Kepala si Gundul mulai tumbuh bulu-bulu halus beberapa minggu terakhir. Karena itu, si Gundul tidak ingin lagi dipanggil Gundul. Namun, Sersan Galuh mana tahu isi hati si Gundul. Apalagi, selama ini si Gundul tak pernah menolak dipanggil Gundul.

”Ndul… Gundul…”

”Ndul… Gundul…”

”Bangun, Ndul. Molor terus ente, Ndul…!!”

Si Gundul memalingkan kepala plontosnya ke arah sandaran kursi kayu. Membelakangi Sersan Galuh yang berkali-kali membungkuk, menepuk-nepuk punggung Gundul.

”Ah, nggak asyik ente, Ndul…”

Si Gundul tetap merapatkan mata, meski sebenarnya ia tak benar-benar tidur. Dia kehilangan mood. Dalam pikirnya ingin sekali berteriak di dekat telinga Sersan Galuh: Aku sudah tidak Gundul. Jangan panggil aku Gundul lagi, berengsek.

Kata pak ustad, bila marah saat berdiri obatnya duduk. Kalau duduk masih marah, tidur. Dan kalau masih marah pas tidur, pergi cari air, lalu wudu. Si Gundul ingin kemarahan dalam hatinya pergi cepat-cepat. Namun, dia tak mau buru-buru pergi ke musala belakang kantor polisi itu untuk berwudu. Sersan Galuh pasti curiga. Dan drama pura-pura tidur itu sudah barang tentu akan terbongkar. ”Ah, taik si Galuh. Berengsek betul polisi satu ini,” maki Gundul dalam hati.

Gundul sebenarnya polisi yang gagah dan maharamah. Meski hanya berpangkat sersan, dia disegani masyarakat Winongo karena kegigihannya melindungi warga dari segala bentuk kejahatan. Kehebatan Gundala kalah jauh dengan ketenaran Gundul di Winongo. Selama ada Gundul, kecamatan seluas tiga kelurahan di Kota Persaudaraan Cinta Damai itu nyaris tak pernah sekalipun disambangi maling, rampok, pencopet, bahkan pemulung barang bekas. Semua orang takut berperilaku jahat di Winongo. Takut ditangkap Gundul, lalu dikurung di sel pengap ukuran 2×2 meter selama berhari-hari sebelum akhirnya dibawa ke tahanan kejaksaan.

Belakangan Gundul diselimuti perasaan gusar. Paling gusar di antara kegusaran yang pernah mampir di pikirannya. Semua karena sebutan Gundul yang melekat dalam dirinya. Padahal, kepalanya sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus pertanda ia tidak gundul lagi. ”Aku sudah tidak gundul lagi, aku emoh dipanggil gundul.” Dia bergumam dalam hati, menyesali hidupnya sendiri.

Panggilan Gundul sebenarnya tak jelek-jelek amat. Lebih beradab ketimbang dipanggil kampret, cebong, PKI, HTI, togog, atau yang lagi hit sekarang ini: pinokio. Seharusnya Gundul bangga punya kepala gundul macam lahan hutan yang tak lagi ditumbuhi pohon. Lantaran pria gundul cukup seksi bagi perempuan-perempuan penggemar Vin Diesel yang berperan sebagai Dominic Toretto di film Fast Furious. Namun, si Gundul tetap tak mau lagi dipanggil Gundul. Dia ingin semua orang memanggil nama aslinya: Wibowo.

Semua orang tahu nama asli Sersan Gundul adalah Wibowo. Tapi, orang-orang telanjur akrab dengan nama Gundul daripada Wibowo. Nama Wibowo lagipula ada banyak di Winongo. Ada Agus Wibowo si tukang cukur. Hendra Wibowo peternak bebek. Ganjar Wibowo si bos mebel, dan satu lagi Herman Wibowo penjual pentol yang saban sore buka lapak di depan toko waralaba, dekat masjid besar kecamatan. Semua nama-nama itu punya panggilan Wibowo.

Ada apa denganmu, Ndul? Sersan Gundul, eh Sersan Wibowo, terngiang raut muka anak gadisnya, Juleha, setiap kali dipanggil Gundul. Sambil marah-marah, Juleha yang baru saja diterima kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di universitas ternama di ibu kota tidak mau lagi ayahnya dipanggil Gundul. Juleha malu lantaran setiap teman-temannya tandang ke rumah selalu bertanya kenapa ayahnya lebih tenar dengan sebutan Sersan Gundul daripada Sersan Wibowo.

Selama tinggal di rumah kos, Juleha pun dibayangi bongkahan rasa malu bila kelak teman-teman kuliahnya tandang ke rumah dan mengetahui nama panggilan ayahnya adalah Sersan Gundul. Dia tidak ingin itu terjadi. Kata Gundul dicap buruk di kalangan mahasiswa FISIP semenjak istilah Setan Gundul beterbaran di jagat maya. Sersan Gundul dan Setan Gundul sangat mirip. Pikir Juleha dalam bayang-bayang itu.

Tidak mudah bagi Sersan Wibowo membuang kenangan masa lalu bersama Sersan Gundul. Seperti prinsip keseimbangan, Sersan Gundul kadang bahagia, kadang pula menderita selama menyandang gelar itu. Ingatannya berselancar dengan kenangan indah ketika dielu-elukan masyarakat Winongo beberapa saat setelah dirinya berhasil mengamankan pemulung barang bekas. Puluhan warga bersorak sorai saat itu: Sersan Gundul, Sersan Gundul, Anda sangat hebat Sersan Gundul. Peristiwa bersejarah itu tercatat di papan statistik di kantor Gundul sebagai penindakan paling fenomenal sepanjang tahun ini.

Sejurus kemudian Sersan Gundul, eh, Sersan Wibowo, tebersit kenangan suram akan panggilan itu. Gara-garanya, gosip murahan yang beredar di kalangan masyarakat. Sersan Wibowo diisukan pergi ke tempat karaoke di pusat kota bersama seorang perempuan semohai yang cantiknya segaris dengan Luna Maya. Isu itu mengakibatkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) kategori kuning alias berpotensi menimbulkan keributan besar.

Di penjuru kecamatan, di warung-warung kopi, gosip itu jadi trending topic berminggu-minggu. Pergi ke tempat karaoke dengan perempuan yang bukan pasangan resmi adalah aib bagi warga Winongo. Istri Sersan Gundul marah besar ketika mendengar gosip itu. Imbasnya, seminggu penuh Gundul tak dapat jatah bercinta dari istrinya. Asu tenan, pikir Gundul waktu itu.

Beruntung Sersan Wibowo berhasil mengamankan penyebar berita itu. Dia adalah Ketua RT 008 Mbah Ustad Sobirin yang berusia 76 tahun. Sejak menginjak umur 70, pandangan Sobirin sudah rabun.

Dan, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya, gangguan penglihatan itulah penyebab kekacauan tersebut. Sobirin mengira semua orang Gundul di dunia ini adalah Sersan Wibowo. Termasuk pria gundul bertubuh tinggi besar, yang tak sebesar dan setinggi Sersan Wibowo, yang dilihat Sobirin sedang menggandeng perempuan cantik masuk ke tempat karaoke. Asu tenan, pikir Sersan Wibowo saat mendengar cerita Mbah Sobirin.

Sersan Wibowo terus menimbang-nimbang, apakah ia harus merelakan kenangan masa lalu bersama Sersan Gundul berlalu begitu saja. Seperti kata Koes Plus, kenangan itu terlalu indah dilupakan. Dan kata Koes Plus lagi, kenangan itu terlalu sedih dikenangkan. Terus bagaimana, Ndul, eh, Wo?

”Ah, tidak. Aku sudah tidak gundul lagi. Aku tidak mau dipanggil gundul,” gumam Sersan Wibowo seraya mengingat-ingat kemarahan Juleha. ”Tapi, apa jadinya kalau bulu-bulu di kepala dan wajahku ini tumbuh lebat? Pasti warga akan pangling.” Sersan Wibowo berpikir keras dan membayangkan kepala plontosnya tumbuh rambut, kumisnya mekar sejadi-jadinya. ”Hahaha. Ketemu, aku ganti panggilan saja, jadi Pak Kumis,” pikirnya sambil senyum-senyum sendiri.

Sersan Wibowo terbangun dari posisinya. Dilihatnya Sersan Galuh duduk di kursi lobi kantor sendirian. Dia menghampiri kawan seangkatannya itu, lalu berkata: ”Luh, aku mau manjangin rambut, dan merawat kumis. Jadi, nanti kamu jangan panggil aku Gundul lagi, panggil aku Sersan Kumis.”

Sersan Galuh termangu sebentar, menganggap temannya sudah gila. Tak lama kemudian, dia tertawa sekeras-kerasnya, terpingkal-pingkal, seperti baru saja menonton acara dagelan Jawa di channel YouTube. ”Hahaha. Ndul, Gundul. Kamu ini ada-ada saja, tidak pantas kamu dipanggil Sersan Kumis. Kamu itu cocoknya dipanggil Sersan Gundul,” kata Sersan Galuh dengan air muka bahagia.

Sersan Gundul, eh, Sersan Wibowo, menggaruk kepala dengan tangan kanan. Dia berusaha menikmati kebahagiaan Sersan Galuh. ”Emang apa salahnya aku dipanggil Sersan Kumis?” tanya Sersan Wibowo kepada Sersan Galuh dengan wajah memelas.

”Tidak ada yang salah, Ndul,” jawab Sersan Galuh setelah puas tertawa. ”Kamu tidak akan kuat menyandang gelar Sersan Kumis.”

”Loh, emang kenapa?”

Sersan Galuh diam sebentar. Kemudian menyeruput kopi hitam di dalam cangkir kecil putih. ”Kamu tahu, Ndul. Yang bikin negara kita kacau itu kebanyakan adalah orang-orang berkumis tebal. Jadi, kamu jangan sembarangan dengan kumis.”

Sersan Wibowo mendadak ketakutan, bulu kuduknya merinding, semacam baru saja mendengar cerita horor. Dia tahu betul siapa Pak Kumis yang dimaksud Sersan Galuh. Namun, dia tidak mau menyebut nama aslinya. Dalam pikirnya, lebih baik mati bahagia di tanah kelahiran ketimbang terbunuh dengan luka misterius di ulu hati dan dibuang di tengah lautan hanya gara-gara menyebut nama asli Pak Kumis.

Kabar bahwa ibu kota kacau karena ulah Pak Kumis tak bisa bersembunyi dari daya intelijen Sersan Galuh dan Sersan Gundul. Semua kekacauan yang tak pernah ada di Winongo, tentu saja polemik revisi undang-undang, demo di sana-sini, huru-hara tak berkesudahan, dan semuanya.

”Kamu benar, Luh. Aku sepertinya tidak cocok dipanggil Sersan Kumis. Aku lebih baik selamanya dipanggil Sersan Gundul, Luh,” kata Sersan Wibowo, eh, Sersan Gundul. Dia memendam ketakutan luar biasa. Dia tidak mau mati sia-sia gara-gara menyebut nama itu. Nama asli Pak Kumis akan selamanya menjadi rahasia, tak ubahnya misteri tentang siapa dalang di balik kekacauan negeri ini.

”Ndul, Gundul, eh Mis, Kumis.” ***

Baca Lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close