Ngawi

Seribu Gunungan Diperebutkan Warga

NGAWI – Pemkab Ngawi konsisten menggelar pawai gunungan. Tradisi budaya mengarak aneka hasil bumi ini selalu dinanti-nanti ribuan warga setiap tahunnya. Terik cuaca Rabu siang (25/7) tak menyurutkan semangat warga untuk berbondong menyaksikan dan berebut seribuan gunungan yang dipawaikan tersebut. ‘’Asyik. Jarang ada kegiatan seperti ini kalau nggak pas hari jadi,’’ kata Imam, warga yang ikut berebut gunungan.

Sejak pagi, suasana di sekitaran Alun-Alun Merdeka Ngawi tidak seperti biasanya. Beberapa petugas sudah menutup beberapa akses menuju pusat perkotaan. Hal serupa juga terjadi di seputaran Pendapa Wedya Graha Ngawi. Puluhan gunungan besar setinggi kurang lebih empat meter memenuhi jalur masuk dan halaman pendapa. Di samping gunungan besar, juga terlihat seribuan gunungan kecil memenuhi pendapa. ‘’Selain memeriahkan Hari Jadi ke-660 Ngawi, juga untuk memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia, Red) dengan peserta pawai gunungan terbanyak,’’ kata Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Yusuf Rosyadi.

Kendati bukan yang pertama, Yusuf mengklaim pawai gunungan kali ini merupakan pawai terbesar yang pernah diselenggarakan di Ngawi. Dari perhelatan tahun lalu hanya menampilkan 24 gunungan. ‘’Tapi sekarang ada seribu lebih,’’ paparnya.

Selain diikuti lima bidang di DPPTK Ngawi, pawai kemarin juga diikuti seluruh perwakilan pasar tradisional sebanyak 18 perwakilan dan satu peserta dari pihak swasta. Totalnya 24 peserta. Pawai di tahun ini juga melibatkan ratusan pelajar SMA/SMK di Ngawi. Baik yang terlibat dalam pawai maupun yang menampilkan persembahan keseniannya. ‘’Jauh lebih meriah dari tahun lalu,’’ tegasnya.

Menariknya, semua gunungan itu dibuat dari bahan produksi asli Ngawi. Mulai olahan industri kecil maupun kerajinan tangan semua berasal dari buah tangan masyarakat Ngawi. Merepresentasikan kekayaan potensi yang dimiliki Ngawi. ‘’Mengapa hasil bumi yang ditampilkan, karena mayoritas masyarakat Ngawi adalah petani,’’ jelasnya.

Yusuf juga menjelaskan alasan melibatkan seluruh pasar tradisional di Ngawi. Dia tidak ingin pasar-pasar rakyat itu kalah bersaing dengan pasar modern yang diketahui belakangan berkembang pesat. Karenanya, event budaya ini sekaligus menjadi penegasan bila pasar tradisional tetap di hati masyarakat. ‘’Kami berharap, ke depan pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat transaksi. Tapi menjadi alternatif wisata,’’ ucapnya.

Selain pawai gunungan hasil bumi, ada beberapa event lain yang dikemas dalam kegiatan 96 Jam Bersama DPPTK Ngawi. Mulai Gelar Kuliner yang diikuti 40 pedagang dengan 25 jenis makanan dan 15 jenis minuman berbeda. Ada pula Festival Gethuk yang diikuti 18 peserta dari seluruh pasar tradisional di Ngawi. Juga, Ngawi Furniture Fair 2018 yang diikuti 43 industri kecil dan menengah (IKM) dari Ngawi dan sekitarnya. ‘’Semua ini kami persembahkan untuk masyarakat Ngawi,’’ ujarnya. (diskominfo/tif/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close