Serangan Nyamuk Belum Mereda, Wereng Merajalela

87

PACITAN – Anomali cuaca tidak hanya mengancam kesehatan warga Pacitan dengan maraknya serangan nyamuk Aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue (DBD). Pertanian pun terancam sejak beberapa pekan terakhir. Khususnya padi. ‘’Awal tahun ini beberapa wilayah sudah terserang hama wereng,’’ kata Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Pacitan Gatut Winarso kemarin (7/2).

Wilayah Kecamatan Ngadirojo menjadi wilayah terparah akibat serangan wereng. Setidaknya 47 hektare lahan padi di Desa Hadiluwih, Ngadirojo, terserang serangga perusak tersebut. Disusul Kecamatan Kebonagung 15 hektare. Beberapa tahun silam, wilayah Kecamatan Arjosari yang jadi endemis wereng. Namun, kini malah minim. ‘’Semua wilayah telah kami kendalikan  dengan penyemprotan pestisida dan pembakaran di beberapa titik,’’ ujarnya.

Meski begitu, pihaknya tetap bersiaga menghadapi serangan susulan. Sebab, perkembangan insekta yang menyerang batang padi itu tergolong cepat. Jika tak ditangani dalam lima hari, satu hektare lahan padi dapat rusak. Pihaknya pun mengandalkan deteksi dini agar serangan hama tersebut dapat terkendali. ‘’Para petani tak bisa hanya melihat dari kejauhan, harus terjun langsung saat mendapati ada tanaman yang terserang,’’ pintanya.

Gatut menambahkan, anomali cuaca belakangan ini membuat pertumbuhan wereng pesat. Pasalnya,  serupa dengan serangga lainnya, proses peneluran wereng juga tergantung cuaca. Satu induk mampu menghasilkan 25 hingga 30 telur yang menetas dalam lima hari. Sehingga, jika tak dideteksi, penyebaran wereng mudah terjadi. ‘’Situasinya (cuaca, Red) seperti saat ini mendukung peledakan hama tersebut,’’ tuturnya.

Pemilihan varietas padi, sebut Gatut, juga menambah tingginya serangan wereng. Di Ngadirojo misalnya. Didapati varietas padi yang tidak terdaftar. Benihnya diduga berkualitas buruk dan mudah terserang hama. Pun para petani menanam sepekan lebih awal ketimbang petani lain. ‘’Sepertinya varietas padinya belum dirilis, mereka minta dari Trenggalek,’’ terangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Gatut  mengklaim baru kali ini serangan wereng tergolong parah di Pacitan. Pola tanam yang kerap diisi padi juga dinilai jadi biang tingginya serangan. Meski tak mengancam ketahanan pangan Pacitan, namun merugikan petani. ‘’Kalau satu rumpun ada lima sampai sepuluh ekor, itu sudah bahaya. Harus dipestisida,’’ tegasnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here