Serangan DBD Renggut Dua Nyawa

124

MAGETAN – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok menakutkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan mencatat, sepanjang tahun ini terdapat 156 kasus penyakit yang ditularkan nyamuk aedes aegypti (AE) itu. Ratusan kasus DBD itu tersebar di 22 kecamatan. Paling banyak di Candirejo (22 pasien). Disusul Kartoharjo (13) serta Tebon (12) dan Plaosan (12).

Dari ratusan kasus tersebut, dua pasien meninggal dunia. Yakni, warga Desa Sendangagung (Plaosan) dan Durenan (Sidorejo). Keterlambatan mendapat penanganan medis disebut menjadi penyebab kematian kedua pasien itu. ‘’Ciri-cirinya tidak disadari sehingga telat dibawa ke faskes (fasilitas kesehatan, Red),’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Magetan Didik Setyo Margono kemarin (28/12).

Didik menyebut, nyamuk aedes aegypti penyebab DBD kini bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jika dulu hanya berkembang di wilayah ketinggian maksimal 1.300 mdpl, kini bisa bertahan hidup pada ketinggian 1.500 mdpl. ‘’Sekarang mampu hidup di dataran tinggi,’’ ujarnya.

Dia mencontohkan fenomena yang terjadi di Kecamatan Plaosan. Sebelumnya, kasus DBD di wilayah itu nihil. Namun, tahun ini tercatat sudah 12 warga yang terjangkit. ‘’Karena biasanya tidak ada (serangan DBD, Red), mereka jadi kurang waspada,’’ sebutnya.

Untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran penyakit DBD, lanjut dia, dinkes semakin gencar melakukan fogging. Namun, tidak semua wilayah mendapatkan pengasapan. Melainkan hanya yang terdapat temuan DBD.

‘’Karena kemampuan terbang nyamuk aedes aegypti itu 100 meter, cakupan fogging ditarik kanan-kiri menjadi 200 meter,’’ tutur Didik sembari menyebut sebelum pengasapan wajib dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE).

‘’Tidak semua wilayah di-fogging. Karena kemungkinan penyakitnya dibawa pasien dari luar daerah,’’ terangnya. (bel/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here