Seorang ODHA Tewas Bunuh Diri

144

NGAWI – Kasus HIV/AIDS di Bumi Orek-Orek semakin mengkhawatirkan. Selama triwulan pertama 2019 saja, ditemukan 15 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) baru. Tiga di antaranya meregang nyawa. Seorang penderita tewas dengan cara bunuh diri. ‘’Dua lainnya meninggal karena penyakit penyerta,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi Endah Pratiwi kemarin (18/3).

Terkait seorang ODHA yang bunuh diri tersebut, Endah menepis anggapan karena pihaknya telah melakukan pembiaran. Dia mengklaim, dinkes sudah melakukan kewajibannya sesuai SOP.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani perihal virus yang menggerogoti kekebalan tubuh itu. Mulai pendeteksian dini, pendampingan, hingga pemberian antiretroviral (ARV). ‘’Menangani HIV/AIDS memang menjadi tanggung jawab kami. Tapi, kondisi di lapangan tidak semudah yang diperkirakan,’’ ujarnya.

Endah menilai kesadaraan masyarakat dalam menyikapi HIV/AIDS masih kurang. Termasuk perlakuan orang-orang di sekitar penderita. Padahal, peranan keluarga menjadi faktor penting dalam pengoptimalan pendampingan.

Kendala juga datang dari si penderita sendiri. Yakni, kecenderungan bersikap tertutup. ‘’Seorang penderita yang bunuh diri itu, kemungkinan besar dia mengalami tekanan psikis tapi tidak diimbangi dengan peran keluarga yang maksimal,’’ tuturnya.

Endah menyebut, mindset khalayak terkait HIV/AIDS maupun ODHA turut andil dalam penanganannya. Intinya, sebisa mungkin penderita tidak merasa dikucilkan dari lingkungan. Dia menekankan, penularan HIV/AIDS tidak akan terjadi dengan bersentuhan, makan bersama, atau berbicara.

Namun, fakta di lapangan masih banyak warga yang cenderung menjauhi ODHA lantaran khawatir tertular. ‘’Soal penularan, TBC lebih berbahaya daripada HIV/AIDS. Yang diperangi itu penyakitnya, bukan orangnya,’’ terang Endah kepada Radar Ngawi.

Tentang pendeteksian sedini mungkin HIV/AIDS, Endah mengatakan seluruh puskesmas yang ada di Ngawi sudah bisa mendeteksi atau memberikan pelayanan tersebut. Namun, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri untuk menangani jenis penyakit tersebut. ‘’Keluarga, penderita, maupun masyarakat, mesti bekerja sama. Kalau sudah begitu, penanganan dari kami bisa optimal,’’ tegasnya.

Terpisah, Kapolsek Jogorogo AKP Budi Cahyono membenarkan kejadian bunuh diri di wilayah hukumnya pada Sabtu lalu (16/3). Adalah Jan, 55, yang nekat mengakhiri hidupnya dengan seutas tali. Jan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa oleh istrinya di dalam kamar mandi rumah.

Aparat kepolisian tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban saat dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). ‘’Diduga frustasi karena sakit yang dideritanya tidak sembuh-sembuh,’’ katanya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here