KriminalitasMadiun

Sempat Keguguran, Siti Ingin Edmon Juga Dihukum

SITI Artiyasari, 38, satu dari dua terdakwa perkara kepemilikan sabu-sabu (SS) empat kilogram, menitipkan memo untuk para wartawan. Catatan itu diserahkan usai sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun Rabu (23/10). Isinya tentang keterlibatan Edmon Gani, narapidana (napi) kasus narkoba di Lapas Kelas I Madiun, atas kasus yang menjeratnya.

Ketua Majelis Hakim Teguh Harissa menghukum Siti 18 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Sedangkan terdakwa lainnya Natasya Harsono, 23, kena 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Subsider Siti 1,5 tahun penjara dan Natasya 1 tahun penjara. ‘’Baca saja itu (memo),’’ kata Siti ketika diminta tanggapan ihwal vonis tersebut sembari menyerahkan selembar amplop dari balik sel tahanan PN.

Di dalam amplop putih ukuran sedang itu terdapat lima lembar catatan kecil. Tiga lembar di antaranya satu kesatuan. Bagian paling depan bertuliskan Buat Teman Media, Harus Gimana Aku Ini. Sedangkan lembar di baliknya berisi harapan Edmon harus dihukum. Sebab, hanya dia yang diproses hukum. Sedangkan SS milik pemuda itu.

Mana Keadilan, bunyi kalimat terakhir lembar itu. Belakangan, Edmon yang sempat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan membantah mengenal Siti. Dia juga menyangkal memberi perintah mengambil dan mengirim paket SS dari Pekanbaru, Riau, ke Kabupaten Madiun.

Catatan kedua berisi curhat. Dia keguguran ketika ditangkap dan berpisah dengan suaminya. Masalah itu diterimanya. Namun, dia putus asa ketika Edmon berbohong dalam persidangan. Catatan di baliknya, terurai kalimat SMS dari Edmon berisi janji-janji.

Namun, penggalan kalimat dari tiga pesan singkat pada 3 Oktober itu tidak dijelaskan spesifik ditujukan untuk siapa dan maksudnya. Seperti pukul 07.12 yang berbunyi: tolong bilang Tia (Siti) ya… sabar dulu… belum dikasih dari atas. Sabtu harusnya sudah cair. Terima kasih sebelumnya.

Catatan terakhir terdapat perincian biaya operasional senilai Rp 9.151.000. Duit dari delapan item pengeluaran itu digunakan melaksanakan tugas mengambil paket SS. Siti menuliskan duit pemberian Edmon hanya Rp 7,5 juta. Sisanya dicukupi uang pribadi.

Selain belum dikembalikan, Siti juga belum menerima upah dari tugas yang berujung penangkapan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur awal Mei lalu itu. ‘’Aku bersalah atas kelakuanku gara-gara ekonomi. Aku hanya berharap ada yang bantu aku untuk membukak kedok Edmon. Supaya aku tenang jalani hukumanku. Amin,’’ tulis Siti.

Sedangkan memo lainnya berisikan nomor handphone aktif Edmon. Namun, Siti melarang memublikasikannya. Terdakwa hanya berharap ada seseorang yang bisa membantu membuka kedok Edmon dari nomor itu. ‘’Saya jalani hukuman, tapi Edmon juga harus dihukum. Makanya saya kirim surat ke media, mau minta pertolongan ke mana lagi coba?’’ beber Siti.

Dimintai tanggapan atas keterangan-keterangan dalam catatan Siti, Teguh menegaskan belum bisa dibuktikan. ‘’Karena dalam persidangan tidak ada fakta yang bisa membuktikannya,’’ jelas hakim yang juga kepala PN Kabupaten Madiun tersebut.

Teguh menyatakan, nama Edmon tertera dalam berita acara pemeriksaan (BAP) hingga akhirnya dipanggil dalam persidangan sebagai saksi. Namun, saksi mengingkari mengenal dan memerintah Siti. Klaim Siti pun lemah karena tidak ada bukti yang menguatkan.

Pengakuan komunikasi lewat WA dan SMS, misalnya. Percakapan tersebut tidak bisa dibuktikan dalam bentuk rekaman atau transkrip percakapan. ‘’Kami independen, kewenangan penyidik untuk mendalaminya. Kalau di lain hari terbukti, bisa masuk terdakwa dengan berkas terpisah,’’ paparnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close