Semangat Okan Menuntut Ilmu Tak Pernah Padam

259
PANTANG MENYERAH: Okan bersama Rangga melintasi Jembatan Pelangi.

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo  – Mengenakan seragam merah putih, Okan Anugerah Pratama bersama Rangga temannya terlihat baru saja keluar dari gerbang SDN Biting. Keduanya hendak menyeberangi Jalan Raya Ponorogo-Solo yang siang itu ramai lalu-lalang kendaraan.

Setelah menengok kanan-kiri memastikan kondisi aman, keduanya berlari kecil menyeberangi jalan. Langkah Okan dan Rangga terhenti di sebuah gazebo area pasar wisata. Keduanya lantas melepas sepatu, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Dari kawasan pasar wisata, keduanya melintasi jembatan gantung bercat warna-warni yang kini dikenal dengan sebutan Jembatan Pelangi. Keduanya tampak berlari riang saat melintasi jembatan dengan panjang sekitar 100 meter itu.

Sampai di ujung jembatan, keduanya berpisah. Rangga melanjutkan perjalanan menuju Dusun Temon, Biting, Badegan. ‘’Rumah saya tinggal belok sudah sampai. Kalau Okan setelah musala itu masih belok-belok lagi,’’ kata Rangga.

Di bawah terik sinar matahari, kedua tangan Okan menenteng sepatu. Sementara, kaus kakinya tersembunyi di dalamnya. Lantaran jalanan yang beraspal itu banyak lubang, Okan memilih berjalan di cor-coran semen drainase.

Jalannya setengah menanjak dan berkelok. Mengitari area persawahan dan permukiman warga. Radar Ponorogo membuntuti Okan dari belakang dan sempat menawari tumpangan menuju rumahnya. Namun, bocah itu menggeleng.

Sudah berjalan sekitar 1 kilometer lebih rumah Okan tak kunjung terlihat. Sampai akhirnya di tengah perjalanan seorang pria parobaya tanpa menggunakan helm dengan motor bebek lawas berhenti di sampingnya. Seketika, Okan dibonceng laki-laki itu menuju rumahnya.

Setelah berkendara selama hampir 20 menit, motor itu memasuki pekarangan rumah. Dari daun pintu terlihat Warni, ibu Okan, menyambut dengan membawakan tas putranya yang terlihat cukup berat itu. ‘’Itu tadi pakdenya,’’ katanya.

Sembari menenggak air putih, wajah Okan terlihat menghitam dan memerah. Meski begitu, Okan langsung mengeluarkan buku hendak mengerjakan sejumlah pekerjaan rumah (PR) dari sekolah. Tidak lama berselang, sang ibu menyodorkan sepiring nasi dan telur. Dirapikannya buku-buku ke dalam tas lalu dilucutinya seragam sekolah yang melekat di badannya. ‘’Sejak masih PAUD dia biasa jalan kaki. Nggak punya motor buat ngantar,’’ beber Warni.

Lantaran jarak rumah dan sekolah cukup jauh, setiap hari Okan sudah bangun pukul 04.30. Setelah mandi dan berkemas, lalu berangkat pukul 06.00. ‘’Sampai sekolah sekitar setengah jam,’’ imbuhnya.

Warni menceritakan, Okan sesekali mengeluh lelah. Jika sudah begitu, biasanya kedua kakinya diurut sang nenek. ‘’Sepatune niku dicopot mergi sumuk ngoten. Nggih kadang dilebetaken tas,’’ ungkapnya.

Warni merasa waswas. Pasalnya, Okan tidak biasa sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Karena itu, dia memberi uang saku Rp 3.000. Biasanya untuk membeli nasi seharga Rp 2.000. Sisanya untuk membeli minuman. (dil/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here