Semalaman Tidur di Atap Teras Rumah Tetangga

203

Setelah terjebak banjir di pinggiran tol bersama adik dan dua balita keponakan, Arif Rosidi ternyata mengalami kejadian tidak kalah dramatis. Dia nekat kembali menerjang banjir demi menyelamatkan sang ibu yang terkepung air di dalam rumah. Seperti apa kisahnya?

TERJEBAK banjir di area persawahan pinggir tol ruas Ngawi-Wilangan tidak akan lekang dari kepala Arif Rosidi. Situasi mencekam yang dirasakan bersama adik dan dua keponakan yang masih balita terekam jelas di ingatannya. Banjir telah surut kini. Tapi, ada satu peristiwa lagi yang tak akan terlupa setelah Arif sampai di tempat pengungsian. ‘’Setelah diselamatkan itu, saya kepikiran ibu di rumah,’’ katanya.

Warga Dusun Sumberejo, Desa Kersikan, Geneng, itu tidak langsung lega sepenuhnya setelah selamat dari terjebak banjir. Berhasil mengungsi di rumah saudara di Desa Gandu, Karangrejo, Magetan, kepalanya disesaki keberadaan ibunya. Bagaimana tidak, saat itu dia belum tahu ibunya yang masih di rumah sudah dievakuasi atau belum. ‘’Setelah istirahat sebentar karena kram, saya kembali ke rumah,’’ ujarnya.

Setelah magrib, Arif bersama adik dan dua keponakannya sampai ke pengungsian. Kesulitan mencari kendaraan berujung sampainya mereka di rumah saudara saat sudah petang kendati berhasil diselamatkan siang hari. ‘’Saya kembali ke rumah tidak lewat sawah lagi. Lewat jalan, kadang harus berenang juga saat di tempat yang tinggi banjirnya,’’ tutur pria 47 tahun itu.

Arif nekat berjalan di tengah kepungan air pada malam hari. Senter menjadi satu-satunya sumber cahaya yang dia miliki saat itu. Keliru ambil pijakan lalu kejeglong, beberapa kali dialaminya. Tanda tanya dan harapan yang besar merambati benaknya saat mendekati rumahnya. ‘’Saya baru plong setelah ibu menjawab panggilan saya,’’ katanya.

Cahaya senter Arif arahkan ke pintu utama rumah. Syukur sekaligus haru menyeruak dari dalam dadanya. Dia mendapati ibunya nangkring di tengah-tengah tangga yang disandarkan blandar rumah. ‘’Lega setelah ketemu ibu, tapi bingung lagi mau ke mana,’’ ujarnya.

Dia tidak mau mengulang keputusan berisiko seperti yang dialami siang harinya bersama adik dan dua keponakannya. Arif lantas meminta ibunya turun. Setelah itu, kakinya yang sarat luka beret akibat menerjang banjir menaiki anak tangga. Menuju pogo, dia mengambil beberapa potong pakaian dan selimut yang sudah sempat diselamatkan saat air masuk rumah belum tinggi Kamis pagi (7/3). ‘’Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Kemudian dievakuasi Jumat pagi,’’ terang Arif.

Lalu, di mana Arif dan ibunya semalaman? Atap teras rumah tetangga yang dicor, menjadi tempat tidur dadakan ibu-anak tersebut. Tangga yang sebelumnya ditempati sang ibu dengan kepungan air, dipindah ke atap tetangga tepat samping rumahnya.

Nyaman tidak nyaman bukan jadi perkara penting saat itu. Yang jelas, bertemu dengan ibu dan selamat dari banjir sudah membuat bibirnya tak henti mengucap syukur. ‘’Tidak tahu pukul berapa, saya kembali turun menyelamatkan kambing peliharaan. Saya bawa ke atap juga,’’ ungkapnya. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here