Semakin Jengah, Warga Terdampak Limbah Kulit Tuntut Penanganan Serius

78
AUDIENSI: Warga menyampaikan protes kepada UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Jatim dan CV Carma Wira Jatim yang disebut menjadi penyebab bau limbah di Kali Gandong.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Rasa jengah warga terhadap limbah kulit yang dibuang ke Kali Gandong semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, selain menimbulkan bau tak sedap, genangan limbah itu menjadi tempat nyaman bagi nyamuk untuk beranak pinak.

‘’Baunya busuk dan banyak jentiknya,’’ ujar Muhammad Iqbal, salah seorang warga Kelurahan/Kecamatan Magetan, saat audiensi dengan UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Jatim serta CV Carma Wira Jatim atas inisiatif dinas lingkungan hidup (DLH) Selasa (8/10).

Iqbal mengatakan, permasalahan limbah kulit itu sudah menahun. Namun, meski warga sudah berulang kali melancarkan protes, hingga kini tak ada solusi nyata. Pun, warga Jalan Thamrin yang setiap hari menghirup udara kotor sempat memasang spanduk protes bertuliskan Wisata Baru Kali Gandong bergambar seorang mengenakan masker.

Bau limbah, kata dia, sempat menghilang sekitar sebulan lalu. Namun, beberapa hari berselang muncul lagi. Akibatnya, seorang warga sempat mengusulkan untuk menutup aliran sungai. ‘’Saking jengkelnya, karena iktikad baik (pihak pengusaha) hanya dilakukan setelah ada protes,’’ katanya.

Iqbal meminta pemerintah memperhatikan warga terdampak limbah tersebut. Tidak cenderung melindungi pengusaha. Pun, menuntut penanganan serius, mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang terhadap permasalahan klasik itu.

‘’Jangka pendeknya menghilangkan bau tersebut. Sedangkan penanganan jangka menengah mengembalikan ekosistem sungai. Jangka panjangnya mengembalikan suasana Kali Gandong seperti dulu saat belum tercemari limbah penyamakan kulit,’’ pintanya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala DLH Magetan Saif Muchlissun mengaku pihaknya sudah berulang kali melayangkan surat teguran kepada pengusaha yang membuang limbah kulit ke Kali Gandong. ‘’Hasil uji laboratorium yang kami lakukan, limbah tersebut mengandung zat berbahaya,’’ ungkapnya.

DLH, lanjut Said, bakal terus memberikan pengawasan kepada UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Jatim serta CV Carma Wira Jatim. Apalagi, akhir-akhir ini aroma tak sedap itu meningkat lagi. Padahal, selama puasa lalu sempat menurun.

Tak sekadar memberikan teguran, pihaknya juga memberikan rekomendasi yang harus dilakukan, baik oleh UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Jatim maupun CV Carma Wira Jatim. ‘’Dua-tiga hari ini kami lakukan pengamatan, aromanya kembali menyengat,’’ ujarnya. (bel/c1/isd)

Belum Kantongi IPLC

INSTALASI pengelolaan air limbah (IPAL) yang ada di Lingkungan Industri Kulit (LIK) di bawah pengelolaan UPT Industri Kulit dan Produk Kulit sudah ada sejak 2002 lalu. Sementara, PT Carma Wira Jatim beroperasi sejak 1954 silam. Namun, Plt Kepala DLH Magetan Saif Muchlissun menyebut keduanya belum mengantongi izin pembuangan limbah cair (IPLC) ke Kali Gandong.

Padahal, sesuai UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), pengusaha harus memiliki IPLC untuk bisa membuang limbah ke badan sungai. Sayangnya, menahun setelah aturan itu diundangkan, tak ada yang menindaklanjuti. Baik Pemprov Jatim yang mengelola limbah para penyamak kulit di LIK maupun dari BUMD milik pemprov itu. ‘’Sudah kami layangkan teguran,’’ ujar Muchlis –sapaan Saif Muchlissun- kemarin (8/10).

Menurut dia, pelayangan surat teguran itu sudah merupakan bentuk ketegasan DLH Magetan. Pun pihaknya telah beberapa kali meminta agar UPT Industri Kulit dan Produk Kulit serta PT Carma Wira Jatim mengurus IPLC. ‘’Dulu memang tidak ada izin (membuang limbah ke sungai). Tapi, setelah ada UU harusnya segera diurus,’’ tegasnya.

Tak hanya IPLC, kata Muchlis, keduanya juga harus melengkapi dengan dokumen upaya pengelolaan lingkungan-upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL). Meski UPT Industri Kulit dan Produk Kulit sudah memiliki dokumen itu, perlu pembaruan seiring peningkatan kapasitas produksi.

Muchlis menyebut, kapasitas produksi yang semula 10 ton naik menjadi 20 ton sehari. Sementara, dia menyebut PT Carma Wira Jatim belum memiliki UKL-UPL. ‘’Kami minta untuk segera mengurusnya. Ini penting,’’ tekannya.

Muchlis mengakui, hasil produksi kulit Magetan menjadi komoditas unggulan daerah setempat maupun Jatim. Namun, usaha yang maju itu tak akan berarti jika merusak lingkungan. ‘’Keduanya ini harus paralel. Kegiatan penyamakan kulit tetap jalan dan lingkungan tetap terjaga,’’ tuturnya.

Plt Kepala UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Maryadi tidak menampik bahwa pihaknya belum memiliki IPLC ke Kali Gandong. Namun, bukan berarti mengabaikan UU yang berlaku. Pasca-aturan itu muncul, pihaknya langsung mengurusnya ke DLH Magetan. Namun, dikembalikan karena kurang lengkap. ‘’Saat ini masih proses. Ada perbaikan yang diminta. Nanti bupati yang keluarkan, rekom teknis dari DLH,’’ bebernya.

Sementara, penanggung jawab PT Carma Wira Jatim Pujo Purwanto mengklaim telah memiliki dokumen UKL-UPL. Tak seperti yang dituduhkan DLH. Sedangkan IPLC diakuinya belum ada. ‘’IPLC sedang dalam proses. Kami masih menunggu dokumen yang ada di pusat,’’ katanya. (bel/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here