Selisih 16 Detik, Neta Proyeksi Perkuat Timnas Triatlon

137

Persaingan di kelas Woman Exhibition begitu sengit. Sri Suyamti, cyclist Happy Monday (Solo) yang digadang-gadang meraih predikat Queen of Mountain (QOM), justru kalah. Suyamti harus puas meraih podium kedua. Predikat QOM milik Neta Vani Octaria, pembalap Jasalindo Sport (Malang). Sedangkan peringkat ketiga Nina Puspawardhani dari Happy Monday.

———————-

BERJARAK satu kilometer terakhir pandangan Neta Vani Octaria terhalang truk. Sebab, kendaraan itu menyalakan sein dan berhenti menepi. Pembalap Jasalindo Sport itu terpaksa mengurangi kecepatan. Selanjutnya berusaha menyalip. Nah, di waktu bersamaan Sri Suyamti yang sudah menempel dari tanjakan PLN berusaha menyalip.

Namun, power kayuhan dari Neta membuatnya tak terkejar. Yamti –sapaan akrab Suyamti- akhirnya harus puas berada di peringkat kedua. ’’Itu pas mau finis saya kejar lagi. Ada yang soraki, ayo tinggal tikungan terakhir, saya percepat,’’  kata Neta kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Neta berhasil mencatat waktu 39 menit 37 detik dan berhasil menyabet predikat Queen of Mountain (QOM). Remaja yang baru lulus SMA ini cukup berkesan bisa menaklukkan tanjakan Sarangan yang menurutnya cukup menantang dan berat. ’’Pas sudah sampai finis langsung naruh sepeda, saya duduk ambil napas, haduh mau mati rasanya,’’ seloroh gadis 18 tahun ini.

Neta yang juga seorang atlet triatlon proyeksi SEA Games 2019 di Filipina ini mengaku baru pertama kali ke Sarangan. Rasa penat terbayar lunas dengan pemandangan Telaga Sarangan yang cantik. Bagaimana bisa juara? Kuncinya adalah latihan yang rutin. Namun, karena dia seorang atlet triathlon, jadwalnya berlatih dibagi dengan cabang olahraga lain. ’’Latihannya di sekitar asrama.  Kadang keluar (asrama) naik turun gunung, kalau triatlon lebih ke strength-nya. Dalam seminggu dibagi tiga cabor, ada renang, sepeda, lari,’’ ujarnya sembari menyebut sudah menjadi atlet triatlon sejak 2017 lalu.

Perjuangan berat juga dirasakan Sri Suyamti. Cyclist dari komunitas Happy Monday ini harus merelakan gelar juara QOM kategori Woman Exhibition direbut oleh Neta. Pasalnya, sedari awal posisi Yamti –sapaan akrabnya- berdekatan dengan Neta. ’’Kebetulan saya beriringan terus, katanya kurang 500 meter lagi tapi rasanya kayak masih jauh, kurang 100 meter lagi terus disalip,’’ bebernya.

Yamti menganggap tanjakan di Sarangan menguras tenaga. Tidak peduli apakah kecepatan bersepeda pelan atau kencang.  Sebab, kontur jalan menuju Telaga Sarangan naik terus. Diibaratkan seperti tidak ada ’’bonus’’ turunannya sama sekali. Ditambah  kondisi cuaca yang cukup panas, menjadikan tantangan kian berat. ‘’Full  nanjak. Pas macet, ngerem. Kalau sudah ngerem mau mulai lagi (mengayuh, Red) itu berat. Kaki sudah panas, ngos-ngosan, sebel kayak gitu,’’ ungkapnya sembari menyebut catatan waktu yang berhasil diraihnya terpaut 16 detik dengan Neta.

Bagaimana tipnya bisa juara? Latihan yang konsisten disesuaikan dengan porsi race kompetisi yang akan diikuti. Minimal jarak atau rute yang hampir sama dengan rute yang akan dilombakan. ‘’Saya latihan seminggu empat kali. Biasanya rute variasi. Kalau datar-datar arah ke Jogjakarta, kalau nanjak arah ke Tawangmangu, Klangon, dan Kopeng,’’  ujarnya.

Yamti nyemplung di dunia sepeda sejak kelas VI SD. Dia tertarik bersepeda lantaran budenya dulu adalah seorang pembalap. Sewaktu kecil, sering diajak budenya menonton balapan sepeda. Lama-kelamaan jadi tertarik bersepeda. ’’18 tahun saya sudah bersepeda, minus ketika masa hamil dan lahiran anak. Saya menghitung sekitar 45 hari. Setelah itu mulai sepedaan, saya hamil dua kali,’’ ungkapnya.

Sedari kecil Yamti sudah mengikuti kompetisi. Sampai sekarang sudah tidak terhitung berapa kali dia turun di arena balap sepeda. Pun, baginya semua event berkesan. Karena ada cerita yang berbeda di setiap event.  ‘’Kelas VI sudah langsung ikut kompetisi meskipun sering jatuh dan kalah terus,’’ pungkas mantan atlet PON Jateng tersebut.

Satu suara dengan Yamti, Nina Puspawardhani mengatakan, selain latihan yang konsisten, disiplin dan berdoa juga tak kalah penting. Ketika bersepeda, suasana hati harus enjoy. Pendek kata, bisa menikmati dan melawan rasa sakit ketika berada di ambang batas.

Nina akrab dengan sepeda sejak 2010 silam. Hanya saja, saat itu dia sekadar hobi. Dua tahun kemudian, Nina mulai bersepeda serius. Dalam artian, latihan sampai mengikuti segala macam event sepeda. ‘’Sempat vakum 1,5 tahun pada 2015. Kalau event yang saya ikuti nggak tahu sudah ke berapa kali,’’ selorohnya.

Dari semua balap sepeda, yang membuatnya cukup berkesan adalah Gowes Pesona Nusantara 2017 silam. ‘’Start dari kilometer 0 Sabang, finis di Magelang. Mengelilingi Pulau Sumatera dan setengah Pulau Jawa, pemecahan rekor bersepeda terjauh berkelompok 5.124 kilometer,’’ bebernya sembari menyebut di tahun berikutnya  kembali mengikuti jelajah sepeda nusantara mengelilingi Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Jawa.

Bagaimana dengan tanjakan di Sarangan ?  ‘’Tanjakan Sarangan lumayan bikin kaki cenut-cenut. Tanjakan Sarangan memang menjadi salah satu tanjakan yang jadi list kebanyakan goweser untuk menaklukkannya. Karena dengan gradien yang lumayan, apa lagi kalau lewat jalan lama,’’ pungkasnya. ****(dila rahmatika/ota/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here