Selendang Cinta Ubah Hidup Penyair Istana

34

Sulit untuk tidak menitikkan air mata ketika melantunkan salawat burdah di samping pusara penyairnya. Syair penuh cinta dan pujian kepada nabi akhir zaman itu menyambut kehadiran Jamaah Hero (Happy Cairo) Maret 2019 di Alexandria. Berikut catatan Arfinanto Arsyadani dari Jawa Pos Radar Madiun.

………………..

SIANG masih panjang di Alexandria. Jamaah Ladima bergegas bergegas menuju masjid Imam Al-Bushiri yang bersebelahan dengan masjid Imam Abul Abbas Ahmad Al-Mursi. Masjid guru-murid itu berdiri dalam satu kawasan di jantung kota Alexandria.

Baru rokaat kedua salat duhur di masjid itu, sayup-sayup terlantun salawat burdah. Mustofa Qobud, cucu Imam Al-Bushiri melantunkannya di samping pusara kakeknya. Ulama itu mempersilakan jamaah Ladima bergabung. Mengikuti lantunan salawat burdah yang dipimpinnya. Usai menutupnya dengan doa, ulama bergamis hijau dengan kopyah merah marun itu berlalu. Menyalami jamaah satu per satu sambil mengucapkan salam perdamaian. Tak banyak waktu berbincang dengan ulama yang di siang itu telah ditunggu koleganya di pelataran masjid.

Ziarah kali ini cukup memberi kesan mendalam di benak jamaah Ladima. Apalagi, bisa menjumpai langsung makam penulis salawat yang cukup populer di tanah air. Burdah menjadi salah satu salawat yang kerap dilantunkan di setiap peringatan maulid nabi maupun kegiatan keagamaan lain di masjid dan musala. ‘’Ziarah dan menggali sejarah seputar ulama yang kita ziarahi. Sangat berarti sekali,’’ tutur Umar Khamdani Samadi jamaah dari RSUD dr Hardjono, Ponorogo itu.

Sebuah kesempatan emas bisa bersalawat dengan bimbingan langsung cucu dari penulis salawat itu sendiri. Momen istimewa itu turut dirasakan rombongan dari RSUD dr Hardjono. Kabid Penunjang Medik drg Enggar Tri Adji Sambodo, Kasubag Humas Suprapto Tumiran Kromojoyo serta Sarbianto dan Mohammad Riyanto Imam Mustaqim. Herryono beserta putranya dr Achmad Diyas Kurnia dari Ponorogo dan Sofan Zatmiko Pudjayanto dari Kota Madiun dan Ismunarso Teguh Wibowo dari Surabaya. ‘’Paket perjalanan yang ditawarkan Ladima cukup padat dan berisi. Tak ada agenda yang terlewatkan,’’ terang Hartoto Harjodilar Samud, Ketua DPC Demokrat Magetan itu.

160 bait syair itu terangkum dalam 10 bab di kitab al-Burdah fil Mahabbah wal Madhi ala Sayyidil Mursalin. Imam Al-Bushiri menuliskannya setelah nyaris putus asa dirudung kelumpuhan total (stroke). Dalam mimpinya, sufi yang wafat di akhir abad 12 itu mendapatkan surban atau selendang (burdah) dari rasullullah. Begitu terjaga, sakit yang mendera hilang seketika. Sejak itulah, Imam Al-Bushiri meninggalkan kiprah kepenyairannya di lingkup istana. Tak terpikat lagi menuliskan syair dengan harap imbalan dari raja. Cintanya sepenuhnya teruntuk junjungan nabi besar Muhammad SAW.  Apa karena mengingat para kekasih di dzi salam (suatu tempat antara Makkah dan Madinah) sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. Atau, karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di kadhimah (jalan menuju Makkah). Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman idham (sebuah jurang di Madinah). ***(fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here