Madiun

Selatan Rawan Banjir Bandang, Utara Tanah Gerak

ENAM KECAMATAN TAK AMAN

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Enam dari 15 kecamatan di Kabupaten Madiun tidak aman. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memetakan tingkat kerawanan bencana di enam kecamatan itu tinggi di bulan ini. Bahkan, tiga kecamatan di antaranya berpotensi banjir bandang. ‘’Meski baru potensi, kami tetap mewaspadai. PVMBG semestinya telah melakukan survei dan kajian,’’ kata Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Supriyanto Kamis (7/11).

Berdasar lampiran yang diterima koran ini, tiga kecamatan potensi menengah-tinggi sekaligus banjir bandang itu Dagangan, Kare, dan Wungu. PVMBG juga menaruh atensi terhadap Geger, Mejayan, dan Wonoasri yang punya potensi gerakan tanah risiko menengah.

Dijelaskan, gerakan tanah untuk risiko menengah terjadi bila curah hujan di atas normal. Khususnya daerah berbatasan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau lereng. Sedangkan gerakan tanah tinggi tidak hanya curah hujan di atas normal, melainkan juga gerakan tanah lama aktif kembali.

Supriyanto menyebut, kajian PVMBG itu bakal disampaikan kepada masing-masing camat terkait. Kemudian disosialisasikan kepada seluruh warga. Mereka diminta untuk mewaspadai terkait potensi kebencanaan tersebut. Mengingat bulan-bulan ini memasuki musim penghujan. Meski belum mengetahui pasti titiknya, daerah yang disebut PVMBG itu memang berpotensi sekali terjadi longsor. ‘’Karena berada di lereng pegunungan,’’ ujarnya.

Lewat surat tertulis B-1543/KA.BNPB/PK.03.02/10/2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan awal penghujan berlangsung dalam kurun empat bulan sejak Oktober lalu. Puncaknya diperkirakan Januari dan Februari. Lembaga penanggulangan bencana tertinggi itu meminta daerah melakukan upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana puting beliung, banjir, dan gerakan tanah atau longsor.

Supriyanto menyebut, pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke penghujan tengah berlangsung saat ini. Fenomena itu biasanya diikuti kejadian angin kencang dan puting beliung yang menerjang permukiman. Selain sosialisasi, pihaknya telah menyiapkan personel tanggap bencana serta sarana dan prasarana (sarpras) penunjang. ‘’Misalnya, mengecek gergaji mesin dan operasionalnya,’’ tuturnya.

BPBD juga sedang mengecek keberfungsian empat unit early warning system (EWS). Masing-masing di Glonggong (Dolopo), Tempursari (Wungu), Palur (Kebonsari), dan Banjarsari (Madiun). Jangan sampai tidak berfungsi ketika air sungai sudah mengalami kenaikan cukup tinggi. ‘’Kami lakukan maintenance kalau ada komponennya tidak berfungsi,’’ pungkas Supriyanto. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close