Sekolah Swasta Terancam Gulung Tikar

51

MAGETAN — Nasib sejumlah sekolah swasta di Magetan berada diujung tanduk. Beberapa sekolah itu terancam gulung tikar. Persoalannya karena jumlah siswa yang minim. Hal itulah yang dialami oleh SMK Kesehatan PGRI Magetan.

Tercatat mereka hanya mempunyai 15 siswa. Terdiri dari Kelas XII sebanyak 8 siswa, kelas XI (5 siswa) dan kelas X (2 siswa). Meski demikian, pihak sekolah tidak berencana untuk menutup sekolah tersebut. Paling tidak hingga dua tahun ke depan sampai semua siswa lulus. “Kami tetap akan menjalankan sekolah ini. Kami tidak akan menutupnya,” terang Kepala SMK Kesehatan PGRI Magetan Sugianto.

Alasan Sugianto ingin mempertahankan sekolahnya adalah melindungi para guru. Setidaknya ada 18 guru yang mengajar di SMK yang beralamat di Jalan Tripandita tersebut. Menurutnya, jika sekolah tutup mereka akan menganggur. “Eman jika guru dengan kemampuan di berbagai bidang itu harus menganggur. Para guru pun selama ini tidak pernah menuntut gaji yang besar. Dibayar seadanya. Kalau sekolah tidak memiliki uang, ya tidak dibayar. Namanya juga sekolah swasta,” bebernya.

Uang sumbangan dari wali murid, kata Sugianto lebih diutamakan untuk operasional sekolah. Pasalnya, dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang didapatnya minim. Lantaran jumlah siswa yang juga minim. Setiap tiga bulan sekali, sekolah hanya mendapat BOS sebesar Rp 2,6 juta. Sementara untuk sharing dengan wali murid, tidak bisa dilakukan. Mayoritas, siswa yang bersekolah di SMK kesehatan PGRI adalah warga tidak mampu. “Yayasan tidak mau tahu tentang kebutuhan operasional tersebut. Yayasan hanya menyediakan gedung dan lahan,” ungkapnya.

Diungkapkan, jika sekolahnya memang sepi pendaftar. Bukan karena tidak laku. Namun, karena kalah saing dengan SMK negeri. Pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran lalu, setidaknya ada 20 lulusan SMP yang mendaftar. Tapi, karena SMKN 2 Magetan juga membuka kompetensi farmasi, berkas pendaftar yang sudah diserahkan akhirnya dicabut. “Tinggal empat siswa. Itu pun yang daftar ulang hanya dua siswa,” ujarnya.

Sugianto berpendapat sistem zonasi yang diterapkan selama ini belum manjur. Siswa cenderung lari ke SMK negeri. Nama besar sekolah memang menjadi salah satu kunci penarik siswa. Namun, hal itu tidak membuat SMK Kesehatan PGRI Magetan patah arang. Door-to-door ke SMP dan MTs terus dilakukan. Kerjasama dengan perusahaan juga sudah diterapkan. “Untuk bisa survive, tahun ajaran baru nanti paling tidak harus mendapatkan 15 siswa baru. Minimal satu rombel (rombongan belajar), 15 siswa,” katanya.

Sebagai sekolah kecil, SMK Kesehatan PGRI Magetan memang harus berjuang ekstra. Selain harus menggabung ke SMK lain untuk menyelenggarakan UNBK, untuk sertifikasi siswa juga nebeng lembaga sekolah lain. Yakni dengan SMK Prima Husada Madiun. Padahal, di Magetan terdapat SMK Berlian Nusantara yang sudah bisa menyelenggarakan sertifikasi tersebut. “Tapi, itu tidak kami lakukan karena khawatir citra SMK Kesehatan PGRI Magetan akan semakin jatuh. Serta membuat lulusan SMP dan MTs memilih untuk melanjutkan ke SMK Berlian Nusantara. Kami perlu membangun image sekolah,” pungkasnya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here