Sekolah Melarang, Parkir ’’Outdoor’’ Tumbuh Subur

129

NGAWI – Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan pelajar Ngawi terbilang tinggi. Kondisi itu disebut-sebut tak lepas dari banyaknya siswa setingkat SMP yang nekat mengendarai motor ke sekolah. Meski pihak sekolah telah melarang siswanya membawa motor, ketersediaan lokasi parkir di luar membuat fenomena tersebut terus terjadi.

Pantauan Radar Ngawi, tempat-tempat parkir pelajar bermotor itu umumnya tidak jauh dari gedung sekolah. Pun, nyaris selalu ada di seluruh satuan pendidikan dengan pelajar belum cukup umur untuk berkendara tersebut. ‘’Rumah jauh. Karena tidak ada yang antar-jemput, jadi bawa motor sendiri. Sekali parkir Rp 2 ribu,’’ kata Dea, salah seorang pelajar SMP, kemarin (25/1).

Jenis dan model tempat parkir untuk pelajar ini beragam. Mulai sebidang lahan kosong, bangunan semipermanen, sampai rumah yang sengaja dialihfungsikan sebagai lokasi parkir.

‘’Di sini, sehari ada 50 motor lebih (yang parkir, Red),’’ kata salah seorang penjaga parkir ’’outdoor’’ sebuah SMP yang enggan namanya dikorankan. Jika diasumsikan tarifnya Rp 2 ribu, penyedia lahan parkir dalam sehari mengantongi duit sedikitnya Rp 100 ribu.

Sementara itu, angka laka lantas di Ngawi yang melibatkan pelajar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Catatan polisi, sepanjang 2017 terjadi 243 insiden laka lantas pelajar. Dari jumlah tersebut, sembilan siswa meregang nyawa. Sedangkan pada 2018 terdapat 290 laka lantas pelajar. Sembilan pelajar juga meninggal dunia akibat laka lantas sepanjang tahun lalu tersebut.

Kasatlantas Polres Ngawi AKP Yanto Mulyanto mengatakan, selama ini pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk menekan angka laka lantas pelajar. Salah satunya sosialisasi rutin ke sekolah-sekolah selain penindakan di lapangan dengan surat bukti pelanggaran (tilang). ‘’Kami sudah masuk ke sekolah-sekolah, mengisi kegiatan sadar lalu lintas,’’ ungkapnya.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan setempat terkait larangan mengendarai motor ke sekolah bagi pelajar di bawah umur. ‘’Kepada guru dan orang tua siswa pula. Selain itu, penindakan lalu lintas di sekitaran sekolah,’’ imbuhnya.

Ditanya keberadaan tempat parkir yang di luar kawasan sekolah, dia hanya menyebut bakal ditindaklanjuti. Imbauan bakal diberikan kepada pemilik lahan parkir atau penitipan motor pelajar. ‘’Akan kami arahnya untuk tidak menerima pelajar di bawah umur,’’ ujarnya.

Namun, untuk tindakan tegas seperti penutupan tempat parkir pelajar, Yanto belum bisa berkomentar lebih banyak. ‘’Sementara kami berikan imbauan. Kalau tentang penutupan tempat parkir atau penitipan motor bagi pelajar, perlu koordinasikan lebih dulu dengan pemerintah setempat,’’ pungkasnya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here